Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Merahnya Anyir

Gambar
"Peshawar! Peshawar!" Kata-kata itu terngiang di benak Niar. Langkahnya gontai menyusuri deretan mayat bergelimpangan. Darah tubuh-tubuh kecil itu memerahkan galonan air di kolam."Peshawar! Peshawar!" Niar menyeret langkahnya yang sesekali menumbuk mayat-mayat mungil, murid-murid Taman Kanak-kanak tempat ia mengajar. Matanya nanar menatap sunyi yang mencekam. Tengah hari yang anyir. Siang bolong yang asing kala tak terdengar adzan duhur di udara. Hanya desing peluru tiga jam lalu yang tertinggal di relung-relung rumah siput telinga Niar. Desingan bercampur teriakan pilu nan dalam. Suara-suara perpisahan raga dengan ruh. Suara-suara perjumpaan hamba Tuhan dengan malaikat-Nya. "Peshawar! Peshawar!" Sengatan matahari membakarkan kata-kata itu di wajah Niar yang berjam-jam berpura-pura terbujur kaku di bawahnya. Kata-kata itu pula yang memaksanya menahan paru-parunya agar tak menarik dan membuang napas berdetik-detik. Air matanya menitik setelah tiga jam. Jil…

Tunduk

Gambar
Gambar dari cerbii.devianart.comLengkingan gitar elektrik membahana menutup lagu. Teriakan dan tepukan diselingi suitan seakan ingin meruntuhkan ruangan. Aku meletakkan jari telunjuk dan ibu jariku sedikit masuk ke mulutku. "Suiiiit! Suiiiit! Suiiiit!" Dadaku bergemuruh kencang. Lebih kencang dari yang tadi. Darahku mengalir makin cepat. Napasku memburu. Keringat bercucuran. "Huh...hah...huh...hah..." Kakiku tak berhenti melonjak-lonjak. Tiba-tiba tanpa sadar kulepas pakaianku dan kuputar-putar di udara untuk sesaat sebelum kulemparkan. "Huaaaaghghghgh.....!!!" Teriakan membahana dari sang rocker membakar nadiku. Membakar nadi-nadi kami, para penonton yang serempak menjawab teriakan itu dengan lengkingan serupa, bagai rombongan monster di malam gelap. "Huaaaaghghghgh...!!!"Bau alkohol menyeruak di antara kami. Dentuman drum dan lengkingan gitar elektrik kembali terdengar. Dadaku berdegup makin kencang. Darahku mengalir makin cepat. Makin cepa…

Sebuah Saran

Mobil bercat merah itu bergerak menjauh. Aldi mencengkeram lengan Tomo yang berdiri di muka pintu kuat-kuat. "Maaak...!" tangis bocah berumur 2 tahun itu kencang. Tomo makin mengencangkan gendongannya. "Mamakmu sudah pindah jauh. Suatu hari kau akan menyusulnya," parau suara Tomo. Tangis Aldi makin pecah. Bu Puji menyeka air matanya. "Istrimu akan langsung masuk ruang isolasi. Selanjutnya Dinas Kesehatan yang menanganinya." Tomo menganggukkan kepalanya kepada perempuan paruh baya berbadan subur itu. "Oya, Pak Tomo. Saran saya, sebaiknya kau jangan menikah lagi. Kasihan istri dan anak-anakmu nanti." Tomo tertunduk. "Tapi kalau dengan sesama penderita AIDS boleh, kan, Bu?"

Salah

"Percaya sama saya, deh, Dok. Istri Dokter pasti jadi kelihatan lebih cantik kalau pakai ini." Dokter Addin tertawa kecil. "Iya, saya tahu." Rani tersenyum senang. "Jadi, istri Pak Dokter mau mencobanya?" Dokter Addin mengangguk. "Boleh. Tapi sekarang kamu ikut Bu Ani ke sana dulu, ya." kata Dokter Addin sambil menunjuk seorang perempuan berseragam putih di teras sebuah gedung. Rani beranjak dari bangku taman. "Terima kasih, Dok. Akhirnya ada yang percaya juga." Wajah penuh bekas noda kehitaman itu tersenyum. Dokter Addin ikut tersenyum. Pedih. Ini tahun kedua ia merawat istrinya yang tergoncang jiwanya akibat salah kosmetik.

Titipan

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku."Mas Koyo," orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. "Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci," katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. "Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini," sambungnya.Aku mengiyakan ajakan Kiswoyo meski aku tak kenal betul siapa dirinya. Tapi jika tak ikut Kiswoyo, mau ke mana aku?Adzan …

The Land of Hope

"Mom, wait! Wait for me!" I ran as fast as I could. I saw another ice-break in front of me. I had to jump with my little legs. Mom waited for me impatiently."Quick! The ice is melting!" said Mom.I once again jumped over an ice-break. Waters were everywhere. I understood that we could not live without solid ground. My breath rushed when I made it to stand on a solid icy land. It was white wherever my eyes see. Mom rolled down her body to the ground. I felt like I wanted to do the same thing. My body was exhausted."Thank God we've made it, Son. Here is the land of hope, where ice never melt."I looked to the South. We'd been 150 miles away from my homeland. Behind us, there would be many cubs and their mothers who had to walk and swim North miles away just like what we had done, avoiding the heat of summer that had melted the icy land of Svalbard where we used to live."Welcome to the North Pole, young bear." -End-

Solar Cell

Gambar
"Sudah banyak?", tanya Si Tengah. Si Kiri dan Si Kanan menggeleng pelan. "Sebentar lagi", kata Si Kiri. Rambut ketiganya tertiup angin pagi yang pelan. Sinar matahari dari arah belakang membuat  mereka gembira. Tingngngng...! Suara alarm terdengar dari tubuh Si Tengah.
"Sudah", kata Si Tengah, lalu berdiri. "Sebentar lagi", Si Kiri memegang tangan Si Tengah, mencegahnya pergi. "Tunggu kami", kata Si Kiri pelan. Tingngngng...!
Tingngngng...!
Alarm Si Kiri dan Si Kanan berbunyi hampir bersamaan. "Ayo", kata Si Tengah. Tangan besinya meraih kedua temannya. Kulit buatan yang membungkus tubuhnya memerah. "Cepat! Jangan sampai aku melepuh!", kata Si Tengah. Ketiga tubuh besi itu berlari mencari tempat teduh. "Seharusnya Profesor Sukumot menempatkan solar cell di rambut kita saja, bukan di kulit", sungut Si Kiri. "Mari kita minta ia melakukan itu", kata Si Tengah. "Yah...kita tunggu ia sembuh dari …

Ibu yang Mencari Anaknya

Sudah sejak semalam aku mendengar keributan ini: seorang ibu mencari anak-anaknya yang menghilang. Siang ini suaranya parau, makin mengiris hatiku. Kulihat ia memanggil-manggil anaknya di setiap rumah di gang ini. Lalu pergi untuk kembali lagi meneriaki rumah-rumah kami. Mungkin dia memanggil nama anaknya atau apa, aku tidak tahu. Bahasanya asing bagi warga di sini.
Aku sungguh tak tega. Ingin aku membantunya, tapi bagaimana caranya? Didekati saja ia tak mau. Ia pasti akan langsung ambil langkah seribu jika ada yang mendekat.Aku membuka pintu dan keluar ke teras. Rupanya bukan hanya aku yang memperhatikan ibu setengah tua itu. Tetangga sebelah rumah pun juga kulihat sedang memperhatikannya. Aku mendekat kepada tetanggaku itu. Senyumku kutawarkan kepadanya. Ia menyambutku."Kasihan dia.", kata tetanggaku tanpa kutanya terlebih dahulu. Aku menunggu kalimat berikutnya. "Dua anaknya diambil pemilik rumah semalam dan dibawa entah ke mana." Aku mengangguk-angguk. Ibu man…

25

"Nilaiku di bulan Ramadan cuma 25", kata Ifa tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya. "Dari mana kamu tahu?", tanyaku. "Bukankah hanya Alloh yang tahu nilai ibadah puasa kita?", lanjutku. Adikku yang beranjak remaja itu menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke arahku sambil tersenyum penuh misteri. "Tahu, dong, Kaaak...", katanya yang membuatku jadi penasaran."Cara tahunya bagaimana?". Kuletakkan buku pelajaran kimiaku di meja lalu kuhampiri Ifa. Sepertinya asyik mendiskusikan sesuatu dengan Ifa di tengah keruwetan pikiranku begitu naik ke kelas 12 ini. Ifa selalu punya teori yang menakjubkan. Khas anak-anak, sangat murni dan jujur, tapi seringkali benar. Tidak rugi punya adik yang berselisih usia lima tahun denganku ini."Begini. Selama Ramadan aku ikut tarawih di masjid delapan rokaat dan witir tiga rokaat. Nah, ternyata, setelah Ramadan berlalu ternyata aku hanya bisa mengerjakan dua rokaat saja tiap solat tahajud dan tiga rokaat solat …

Plagiarisme

Gambar
Suapan ini berakhir pada urutan kelima. Pak Mat membuang mukanya saat sendok keenam kusodorkan kepadanya. "Sudah, Pak. Aku tak sanggup lagi". Aku mengalah. Kuturunkan sendok kembali ke piring. Bubur nasi hangat itu mendingin dan membenamkan sendok ke dalamnya."Matahari tak pernah terbit lagi, kan, Pak Han?", tanya Pak Mat. Doktor Mat, tepatnya. Aku tersenyum. Kugeser posisi dudukku di samping ranjang Pak Mat. Suasana ruang VVIP rumah sakit ini begitu sunyi, hanya ada aku dan Pak Mat. Sunyi yang memilukan."Tidak, Pak. Matahari masih setia terbit", kataku pelan. Pak Mat menggeleng. "Aku berharap tidak begitu, Pak Han. Biar kegelapan menenggelamkanku dan seluruh dunia". Mendadak tubuh Pak Mat berguncang-guncang. Ia menangis. Kubiarkan ia melampiaskan emosinya. Selang infus di tangannya ikut menari pilu. "Bahkan istri dan anakku pun tak sudi menerima aibku...", keluh Pak Mat di sela-sela lelehan air matanya. Wajah lelaki lima puluhan tahun…

Untung Belum Terlanjur Hafal

Gambar
Masjid Al-Fattah sore itu sepi. Hanya ada dua gadis duduk di terasnya. "Nah. Ini naskahnya", Dwi mengulurkan lembaran kertas berisi naskah ceramah kepada Tari. "Tidak banyak, kan, Mbak?", kata Tari memelas. "Cuma dua halaman kok, Dik", jawab Dwi. "Tapi belum termasuk kutipan ayat Al-Qurannya, lho", lanjut Dwi. "Haaah...", keluh Tari. Dwi, mahasiswi semester tiga Universitas Islam Negeri itu tertawa melihat ekspresi Tari. "Sudah. Coba kamu baca dulu naskahnya. Itu sudah kuhitung. Kira-kira jadi sepanjang lima menit", kata Dwi menjelaskan.Pekan depan Tari akan mengikuti Lomba Dai Cilik dalam Festival Anak Sholeh tingkat kecamatan. Lomba Dai Cilik itu sendiri terbagi dalam tiga kategori, yaitu dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Tari akan bertanding dalam kategori bahasa Inggris. Ini pertama kalinya Tari ikut. Rasa grogi mendera gadis berumur sebelas tahun itu. Berbicara di depan umum memang bukan hal asing baginya, tapi b…

Sebuah Pesan

Gambar
"Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan." Andin, istriku, menatap wajahku dengan heran. Ponselku masih ada di genggamannya.  Sumber indonesiarayanews"Memangnya kenapa?", tanyanya. Aku diam berpikir. "Dia berbahaya. Boleh kuminta ponselku?", jawabku. Tanganku terulur meminta. Andin memindahkan ponsel dari tangannya ke tanganku diiringi tatapan penuh tanda tanya. Ia tampak sangat ingin berdiskusi tentang pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Tapi ia kalah cepat.  Cup! "Terima kasih, Sayang." Sebuah kecupan manis di pipi pasti akan mampu mengusir keraguannya.Kubuka WhatsApp-ku dan segera kuhapus pesan dari kawan lamaku itu. Ia berlidah ular. Ia piawai sekali mengubah cara berpikir lawan bicaranya. Ini berbahaya! Tak kan kubiarkan dia menyihirku atau istriku. Pilihanku sudah bulat: memilih calon presiden idamanku walau apapun yang dikatakan orang!-Selesai-Prompt #54 Rahasia

Super Woman

Gambar
"Tolong ya, sayang. Aku harus membawanya sore nanti. Aku tahu kau bisa menemukannya".  Frank mengecup kening  Marisol,  istrinya. "Tapi, Frank, aku masih harus mengantar anak-anak ke sekolah. Aku tak kan bisa". Marisol menggelengkan kepalanya. Frank menggenggam tangan Marisol. "Kamu bisa, sayang. You're my super woman", ucap Frank lembut. Marisol menghela napas berat. "Oke, Frank. Akan kucarikan buku itu untukmu". Frank mengecup kening istrinya lagi. "Terima kasih". Lalu ia pergi dengan terburu-buru ke kantor. Seperti biasa, Frank mengecup pipi keempat anaknya dengan secepat kilat, mengucapkan "I love you" kepada mereka lalu pergi. Anak-anak itu tak terlalu mengacuhkan ayah mereka. Bagi mereka, Frank cuma mampir sarapan saja di rumah.Marisol membuka pintu ruang perpustakaan. Bau kertas tua berebut keluar. Rak-rak tinggi berdiri angkuh di sana. Ruang itu tak terlalu luas, namun sangat padat. Klik! Marisol menyalakan lampu.…

Demi Kehormatan Anakku

Gambar
Cengkeh. Di mana cengkehnya? Kubuka satu per satu tutup toples bumbu dapur. Ah, ini dia. Dua bungkus cengkeh. Cukuplah untuk menakuti mereka. Kumasukkan semua cengkeh yang kudapat ke dalam toples plastik kedap udara yang terbuka itu. Beres. Tak lama lagi mereka akan ketakutan dan pergi karena baunya. Tapi, maaf, tak semudah itu mereka bisa pergi. Kugoreskan kapur putih. Perlahan-lahan dengan kekuatan penuh hingga jelas terlihat jejaknya di lantai. Ujung garisnya bertemu dengan pangkal garis. Beres. Kini kuyakin tak ada lagi yang sanggup lari. Mereka akan terjebak. Lalu mati perlahan-lahan.Currie, anakku, masih terlihat murung sambil melihat ke luar jendela. Di bawah sana ada Stilla dan Ben, anak tetangga. Merekalah yang membawa mendung di wajah Currie. Kali ini mereka melukai hati anak miskin macam Currie ini dengan es krim dan teddy bear. Huh! Tak adil! Haruskah anakku merasakan kemiskinan ibunya? Aku masih bisa terima kalau orang tua Stilla dan Ben yang kaya raya itu menyakiti hatik…

Sepotong Sosis, Kentang Goreng dan Susu

Gambar
Apa boleh buat. Bukan seleraku. Tapi perut ini keroncongan minta diisi. Baiklah, sepotong sosis, kentang goreng dan susu semoga bisa menghentikannya. rinalovetulipSendirian kukunyah kentang goreng tak berbumbu ini. Lumayan. Seorang perempuan paruh baya pun sedang sendirian di bangku itu menikmati sarapannya. Tampaknya sandwich. Entah sandwich apa, tuna dengan keju biru mungkin. Atau sandwich telur dengan keju lembaran. Hmmm...sedaaap.Bunga-bunga tulip mekar di belakang wanita itu. Sungguh pemandangan yang indah. Ini musim apa? Ah, tentu saja musim panas. Udaranya hangat seperti di Indonesia. Mungkin.Kukunyah potongan sosis terakhirku. Susu kotak rasa coklat ini pun habis kusedot. Alhamdulillaah, kenyang. Aku pun berdiri. Kutinggalkan wanita paruh baya tadi yang kini berbincang berdua dengan seorang pemuda dalam Bahasa Inggris. Klik.#Pagi hari pukul lima. Boma kecilku menangis kencang di depan kulkas.
"Mamaaa...", panggilnya.
Aku bergegas datang.
"Ada apa, sayang?"

Hujan

Gambar
Hujan! Aku harus pulang. Tapi...jemuran! Oh, tidak, tidak. Harus segera kuangkat! Hap, hap, hap.Setengah berlari kupaksa tumpukan pakaian ini menerobos pintu rumah. Cepat, cepat! Masih ada lagi yang lain! Cepat, angkat semua lalu pulang.Hujan menderas. Tak ada celah untuk menghindari tetesannya. Berarti tak ada kesempatan untuk pulang. Padahal Ibu menunggu di rumah. Ibu. Semoga aku selamat tiba di rumah. Suara televisi terdengar. Film anak-anak. Suara tawa penontonnya menggelegar mengalahkan suara hujan. Oh, iya. Aku lupa. Bocor. Belum kusiapkan ember di bawahnya. Di dekat kompor, dua titik di gudang, dan masih ada lagi yang lain. Cepat, cepat! Sebelum air membanjir. Satu ember, dua ember, satu panci. Semoga cukup.Aku kembali ke kamar. Berselancar di dunia maya. Tapi...oh, tidak! Penutup lubang pembuangan kamar mandi belum kubuka! Air dari talang yang dibuang ke kamar mandi bisa memenuhi ruangan lalu meluber ke mana-mana. Cepat, cepat!Dua bocah mungil masih sibuk menonton televisi. Me…