hari hari fiksi

Sekian % Fiksi

Diberdayakan oleh Blogger.

"Mas, sampeyan dapat undangan. Mau datang?"

"Nggak, Dik. Males," Arif menjawab pertanyaan Laili dengan enggan.

"Apa sampeyan masih capek pulang dari Taiwan? Masih seminggu lagi kok, Mas."

"Kamu itu bujuk-bujuk aku apa ada maunya?" tanya Arif setengah menuduh adik semata wayangnya itu.

"Ealah...ya nggak to, Mas. Gimana juga kedua calonnya kan sahabatnya sampeyan semua. Nggak enak kalau nggak datang," jawab Laili.

"Ya karena mereka berdua temanku itu, makanya aku nggak datang," balas Arif.

"Kalau sampeyan nggak datang, aku bakal kena masalah, Mas."

"Lha, kok bisa?"

"Aku sudah terlanjur janji sama Pak RT kalau sampeyan pasti ikut. Makanya dibela-belain dibuatin undangan walaupun waktu pendaftarannya sudah habis."

"Pak RT njagoni siapa calon lurahnya?" tanya Arif.

Tak ada ketukan di pintu ataupun panggilan di ponsel yang dihiraukannya. Nina sibuk dengan air matanya.

"Ma..." panggil Hari, suaminya, dari depan pintu rumah yang terkunci. Sudah setengah jam Hari begini. Sudah setengah jam pula Nina membeku di dalam sana.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Nina, "Ma, nyalakan internetnya. Aku mau pulang."

"Tidak! Berikan saja semua passwordmu. Password email, facebook, twitter, semuanya! Biar aku yang hapus!" balas Nina.

Hari tertegun.

"Aku tak sudi kauberi nafkah dari jalan yang haram!" tulis Nina lagi.

"Baik, Ma. Password emailku: 'mamacantiksekalihariini'. Facebook:..." Hari memberikan semua password akun-akunnya di dunia maya.

Nina menyalakan wi-fi. Matanya nanar menatap layar komputer di hadapannya.

"Pergilah ke tempat sampah, kau, blog dewasa busuk!"

MFF Prompt #86: Tersesat Di Dunia Maya



Oh, tidak! Dia kini berdiri dua langkah di depanku. Padahal beberapa menit yang lalu aku yang berada di depannya.

Dia melangkah lagi. Kini lebih jauh. Oh, tidak! Aku yang mulai duluan tapi kenapa sekarang keadaannya berbalik?

"Maaf, Jan," katanya sambil tertawa meledek.

Aku hanya bisa tersenyum kecut. "Permainan belum berakhir, San!" seruku.

Sandy terkekeh. Suaranya terdengar menyebalkan sekali.

Giliranku sekarang! Hup! Aku melompat-lompat. Tapi...
"Aaah...!!!" aku menjerit.
Aku menginjak seekor ular besar kuning! Lidahnya yang terjulur seperti meledekku. Gara-gara dia aku mundur sepuluh langkah!

Sandy tergelak puas.
"Maaf, Jan. Dua langkah lagi aku sampai 'finish'. Dadunya, tolong."



"Bukan...bukan begitu. Warnanya...perak transparan."

"Bukan...bukan begitu. Sedikit...lebih gelap lagi..."

"Ya...begitu. Terima kasih... Tolong kirim rinduku...lewat mimpinya...sekarang..."

Denny menarik napas terakhirnya. Makhluk hijau pendek dengan sepasang antena di kepala itu memandang sketsa lukisan Denny yang telah ia bantu selesaikan.

Antenanya tegak berdiri siap mengirim sinyal. Tujuan pengiriman: Laura, Bumi bagian Selatan. Dari Denny, Middle Mars. Awak terakhir misi hijrah pertama.

MFF Prompt #85: Sang Pelukis Bulan



Foto milik Febryan Lukito

Klik!
Kau tersenyum. Indah senja di tepi Laut Tengah itu telah berhasil kau abadikan. Kau pandangi ponselmu. Foto profilmu pun berubah sudah. Sekali lagi kau tersenyum, kali ini dengan rasa bangga.

Kriiing ...
Ponselmu berbunyi. Dengan gugup kau jawab panggilan itu. Ibumu!

"Sudah sholat belum? Maghrib-maghrib kok malah keluyuran!"

Menjawab tantangan Prompt #78: Menikmati Senja dengan PoV orang kedua.

Ganto membuka lembaran koran. Baru pukul sembilan tiga puluh. Matanya berkelana ke beberapa judul berita. Punggungnya bersandar ke sofa. Hamdan naik dari lantai satu.

"Ganto." Office boy bertubuh jangkung itu melipat koran dan meletakkannya.
"Ya, Pak." Ganto berdiri menghadap ke arah bosnya.
"Tolong beli keran ukuran 3/4."
Hamdan mengulurkan selembar uang berwarna biru. Ganto mengangguk.
"Untuk ganti keran yang mana, Pak?"
"Kamar mandi rumah saya," jawab Hamdan.
"Baik, Pak."

Ganto yang mengganti keran. Hamdan mengirimi istrinya pesan singkat.
Urusan rumah kok nyuruh orang kantor? balas istrinya.
UMR-nya sudah mencukupi. Biar dia tidak cari obyekan lain.

Gambar dari cerbii.devianart.com

Lengkingan gitar elektrik membahana menutup lagu. Teriakan dan tepukan diselingi suitan seakan ingin meruntuhkan ruangan. Aku meletakkan jari telunjuk dan ibu jariku sedikit masuk ke mulutku. "Suiiiit! Suiiiit! Suiiiit!"

Dadaku bergemuruh kencang. Lebih kencang dari yang tadi. Darahku mengalir makin cepat. Napasku memburu. Keringat bercucuran. "Huh...hah...huh...hah..." Kakiku tak berhenti melonjak-lonjak. Tiba-tiba tanpa sadar kulepas pakaianku dan kuputar-putar di udara untuk sesaat sebelum kulemparkan.

"Huaaaaghghghgh.....!!!" Teriakan membahana dari sang rocker membakar nadiku. Membakar nadi-nadi kami, para penonton yang serempak menjawab teriakan itu dengan lengkingan serupa, bagai rombongan monster di malam gelap. "Huaaaaghghghgh...!!!"

Bau alkohol menyeruak di antara kami. Dentuman drum dan lengkingan gitar elektrik kembali terdengar. Dadaku berdegup makin kencang. Darahku mengalir makin cepat. Makin cepat dan makin cepat.

Musik telah meriangkan penghuni dadaku yang menjadikan aliran darah tubuhku sebagai jalan tol. Melumpuhkan nalarku dan menumpulkan logika bahkan mengendalikan gerakku. Aku menyeringai serupa serigala lapar di malam hari yang menemukan mangsanya. Aku menerkam. Mengoyak diriku. Memenggal derajat kemanusiaanku dan menundukkannya pada iblis.

"Percaya sama saya, deh, Dok. Istri Dokter pasti jadi kelihatan lebih cantik kalau pakai ini."

Dokter Addin tertawa kecil. "Iya, saya tahu." Rani tersenyum senang. 

"Jadi, istri Pak Dokter mau mencobanya?" Dokter Addin mengangguk. "Boleh. Tapi sekarang kamu ikut Bu Ani ke sana dulu, ya." kata Dokter Addin sambil menunjuk seorang perempuan berseragam putih di teras sebuah gedung. 

Rani beranjak dari bangku taman. "Terima kasih, Dok. Akhirnya ada yang percaya juga." Wajah penuh bekas noda kehitaman itu tersenyum. 

Dokter Addin ikut tersenyum. 

Pedih. 

Ini tahun kedua ia merawat istrinya yang tergoncang jiwanya akibat salah kosmetik.



"Sudah banyak?" tanya Si Tengah. Si Kiri dan Si Kanan menggeleng pelan. "Sebentar lagi," kata Si Kiri. Rambut ketiganya tertiup angin pagi yang pelan. Sinar matahari dari arah belakang membuat  mereka gembira.

Tingngngng...! Suara alarm terdengar dari tubuh Si Tengah.
"Sudah," kata Si Tengah, lalu berdiri. "Sebentar lagi," Si Kiri memegang tangan Si Tengah, mencegahnya pergi. "Tunggu kami," kata Si Kiri pelan.

Tingngngng...!
Tingngngng...!
Alarm Si Kiri dan Si Kanan berbunyi hampir bersamaan. "Ayo," kata Si Tengah. Tangan besinya meraih kedua temannya. Kulit buatan yang membungkus tubuhnya memerah. "Cepat! Jangan sampai aku melepuh!" kata Si Tengah. Ketiga tubuh besi itu berlari mencari tempat teduh. "Seharusnya Profesor Sukumot menempatkan solar cell di rambut kita saja, bukan di kulit," sungut Si Kiri. "Mari kita minta ia melakukannya," kata Si Tengah. "Yah...kita tunggu ia sembuh dari stroke," jawab Si Kanan.

-Selesai-

Prompt #62

Gambar dari http://m.weheartit.com/entry/116724962

"Nilaiku di bulan Ramadan cuma 25", kata Ifa tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya. "Dari mana kamu tahu?", tanyaku. "Bukankah hanya Alloh yang tahu nilai ibadah puasa kita?", lanjutku.

Adikku yang beranjak remaja itu menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke arahku sambil tersenyum penuh misteri. "Tahu, dong, Kaaak...", katanya yang membuatku jadi penasaran.

"Cara tahunya bagaimana?". Kuletakkan buku pelajaran kimiaku di meja lalu kuhampiri Ifa. Sepertinya asyik mendiskusikan sesuatu dengan Ifa di tengah keruwetan pikiranku begitu naik ke kelas 12 ini. Ifa selalu punya teori yang menakjubkan. Khas anak-anak, sangat murni dan jujur, tapi seringkali benar. Tidak rugi punya adik yang berselisih usia lima tahun denganku ini.

"Begini. Selama Ramadan aku ikut tarawih di masjid delapan rokaat dan witir tiga rokaat. Nah, ternyata, setelah Ramadan berlalu ternyata aku hanya bisa mengerjakan dua rokaat saja tiap solat tahajud dan tiga rokaat solat witir. Jadi dua per delapan sama dengan seperempat alias 25%, yang artinya nilaiku 25 dari 100".

"Oooh...begitu ya, Fa. Betul juga teorimu". Ifa yang solihah dan cerdas. Perhitungan seperti ini bisa menjadi gambaran, apakah ibadah kita di bulan Ramadan membekas atau tidak.

"Nah, kalau nilai Kakak berapa?", tanya Ifa. "Mmm...berapa, ya?", jawabku pura-pura bodoh. Padahal sudah jelas: nilaiku nol.

-Selesai-



Suapan ini berakhir pada urutan kelima. Pak Mat membuang mukanya saat sendok keenam kusodorkan kepadanya. "Sudah, Pak. Aku tak sanggup lagi". Aku mengalah. Kuturunkan sendok kembali ke piring. Bubur nasi hangat itu mendingin dan membenamkan sendok ke dalamnya.

"Matahari tak pernah terbit lagi, kan, Pak Han?", tanya Pak Mat. Doktor Mat, tepatnya. Aku tersenyum. Kugeser posisi dudukku di samping ranjang Pak Mat. Suasana ruang VVIP rumah sakit ini begitu sunyi, hanya ada aku dan Pak Mat. Sunyi yang memilukan.

"Tidak, Pak. Matahari masih setia terbit", kataku pelan. Pak Mat menggeleng. "Aku berharap tidak begitu, Pak Han. Biar kegelapan menenggelamkanku dan seluruh dunia".

Mendadak tubuh Pak Mat berguncang-guncang. Ia menangis. Kubiarkan ia melampiaskan emosinya. Selang infus di tangannya ikut menari pilu. "Bahkan istri dan anakku pun tak sudi menerima aibku...", keluh Pak Mat di sela-sela lelehan air matanya. Wajah lelaki lima puluhan tahun ini begitu sedih. "Hitam sudah nama baikku".

Aku merasa kikuk. Mendampingi seorang lelaki menangis bukanlah perkara gampang. Apatah lagi mendengarnya membuka aibnya sendiri. "Jangan begitu, Pak. Tak semua orang yang pernah melakukan keburukan berakhir kelam. Selalu ada jalan keluar. Karena di balik hitam kau akan menemukan terang. Yakinlah, Tuhan itu Maha Penerima Taubat".

Mendengarku berkata begitu, Pak Mat makin tersungkur dalam derai air mata. Jiwanya merapuh laksana kaca yang terserpih. Tercebur dalam danau kelam di tepian kota tempat tubuhnya yang belum mati ditemukan orang tiga malam yang lalu yang membuat keesokan harinya koran setempat memberitakan besar-besaran "Kandidat Guru Besar Melakukan Percobaan Bunuh Diri Akibat Tuduhan Plagiarisme".

-Selesai-

Prompt #58: Darkness
251 kata

Gambar dipinjam dari devianart

"Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan."

Andin, istriku, menatap wajahku dengan heran. Ponselku masih ada di genggamannya. 

Sumber indonesiarayanews

"Memangnya kenapa?", tanyanya. Aku diam berpikir. "Dia berbahaya. Boleh kuminta ponselku?", jawabku.

Tanganku terulur meminta. Andin memindahkan ponsel dari tangannya ke tanganku diiringi tatapan penuh tanda tanya. Ia tampak sangat ingin berdiskusi tentang pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Tapi ia kalah cepat.  Cup! "Terima kasih, Sayang." Sebuah kecupan manis di pipi pasti akan mampu mengusir keraguannya.

Kubuka WhatsApp-ku dan segera kuhapus pesan dari kawan lamaku itu. Ia berlidah ular. Ia piawai sekali mengubah cara berpikir lawan bicaranya. Ini berbahaya! Tak kan kubiarkan dia menyihirku atau istriku. Pilihanku sudah bulat: memilih calon presiden idamanku walau apapun yang dikatakan orang!

-Selesai-

Prompt #54 Rahasia

Cengkeh. Di mana cengkehnya? Kubuka satu per satu tutup toples bumbu dapur. Ah, ini dia. Dua bungkus cengkeh. Cukuplah untuk menakuti mereka. Kumasukkan semua cengkeh yang kudapat ke dalam toples plastik kedap udara yang terbuka itu. Beres. Tak lama lagi mereka akan ketakutan dan pergi karena baunya. Tapi, maaf, tak semudah itu mereka bisa pergi.

Kugoreskan kapur putih. Perlahan-lahan dengan kekuatan penuh hingga jelas terlihat jejaknya di lantai. Ujung garisnya bertemu dengan pangkal garis. Beres. Kini kuyakin tak ada lagi yang sanggup lari. Mereka akan terjebak. Lalu mati perlahan-lahan.

Currie, anakku, masih terlihat murung sambil melihat ke luar jendela. Di bawah sana ada Stilla dan Ben, anak tetangga. Merekalah yang membawa mendung di wajah Currie. Kali ini mereka melukai hati anak miskin macam Currie ini dengan es krim dan teddy bear. Huh! Tak adil! Haruskah anakku merasakan kemiskinan ibunya? Aku masih bisa terima kalau orang tua Stilla dan Ben yang kaya raya itu menyakiti hatiku. Tapi tidak anakku!

Sumber okkesepatumerah

Angin berdebu nan pedih menerobos masuk, menyibak tirai jendela yang compang-camping. Currie menyingkir dari jendela. Wajahnya yang pucat bagai tak punya darah makin pucat saja. Rambutnya kemerahan karena kurang gizi. Kemiskinanku telah kuwariskan kepadanya.

Aku beranjak. Kuambil kaos kaki bekas yang masih bagus. Ini untuk bagian terakhirnya. Kakinya. Beberapa gumpalan kapas kumasukkan paksa ke dalamnya. Penuh dan padat. Bagus. Kini jarum dan benang beraksi. Lihat saja, Stilla. Kau rasakan nanti! Bibirku menyunggingkan senyum yang lebih mirip seringai.

#

Currie melihatku tanpa ekspresi. "Bantu Ibu, Nak". Currie menggeser badannya perlahan. Tangannya merengkuh wadah es batu. "Bawa ke sini", perintahku, "Lalu ambilkan garamnya di meja". Currie memberikan yang kuminta. Aku menuang gula yang tak lagi dikerubuti semut.  "Siap, Currie? Putar!". Currie memutar sekuat-kuatnya. "Ingat, Nak, sepuluh menit. Ben dan Stilla akan merasakannya. Ibu selesaikan tusukan terakhir di boneka". Currie mengangguk dalam diam.

#

Currie keluar rumah dengan senyum kemenangan. Ben dan Stilla menatapnya dalam diam. "Kalian pikir aku tak mampu, kan?", ucap Currie dengan nada congkak. Es krim dan boneka mungil ada di genggamannya.

-Selesai-

Monday Flashfiction #53

Older Posts

LET’S BE FRIENDS

Labels

10% fiksi 100% fiksi 25% fiksi 50% fiksi 75% fiksi 90% fiksi FFRabu

recent posts

Blog Archive

  • Mei (2)
  • November (2)
  • September (2)
  • Agustus (2)
  • Juli (1)
  • Mei (4)
  • April (1)
  • Januari (2)
  • Desember (4)
  • November (1)
  • Oktober (1)
  • September (1)
  • Agustus (2)
  • Juli (2)
  • Juni (3)
  • Mei (2)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates