hari hari fiksi

Sekian % Fiksi

Diberdayakan oleh Blogger.


"Aaargh...!!"

Hanifah menoleh. Ika sedang memegangi kepalanya. Beberapa pasang mata di perpustakaan SMA itu pun menengok ke arahnya.

"Kenapa, Ka?"tanya Hanifah pelan.

"Andai orang-orang jenius itu tak pernah ada," keluh Ika.

"Heh! Nggak boleh berandai-andai. Dosa, tauk!", tegur Hanifah setengah berbisik.

"Eh, iya. Astaghfirulloh," Ika menutup mulutnya.

"Lah, ini soal-soalnya susah sekali, Nif. Ampun deh, ujian Fisika ini nanti aku bisa atau enggak. Hukum Faraday. Rumusnya... Hmmh..." Ika melanjutkan keluhannya.

"Jangan ngapalin rumus, Ka. Pahami logikanya saja," saran Hanifah.

Ika manyun. "Hah, gimana aku bisa paham logika profesor jenius Faraday?!"

"Idih, Faraday bukan profesor, Ka. Sekolah saja enggak tamat, kok".

Ika melongo.

"Kok bisa, Nif?"

"Faraday itu waktu sekolah dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran oleh gurunya, jadi dia enggak lanjutin sekolahnya. Matematika saja dia enggak bisa,"papar Hanifah.

Ika makin melongo.

"Lah, terus yang buat rumus-rumus ini siapa?"

"Maxwell. Dia yang menerjemahkan hasil percobaan Faraday ke dalam bahasa Matematika."

"Tapi Faraday itu kreatif, Ka. Dia juga rajin mencatat hasil percobaannya. Makanya dia berhasil menemukan hubungan segitiga antara medan magnet, listrik dan cahaya," lanjut Hanifah sambil menutup bukunya.

"Listrik dipengaruhi oleh medan magnet. Jadi, perubahan pada medan magnet menghasilkan listrik. Itu konsep Hukum Faraday."

"Hebat...," sahut Ika.

"Iya, Ka. Tapi pernah juga lho Faraday kehilangan memorinya menjelang usia senja. Sampai-sampai ia mengalami masa sulit. Tapi karena sudah takdir mungkin, di penghujung karirnya ia menemukan hubungan medan magnet dengan cahaya."

"Faraday berprinsip 'Tiada yang Terlalu Indah untuk Menjadi Kenyataan, Sepanjang Sesuai dengan Hukum Alam'. Keren, kan?"

Ika masih melongo.

"Keren..."

"Memang Faraday keren," Hanifah tersenyum.

"Bukan dia, Nif. Kamu tuh yang keren!". Ika menepuk bahu Hanifah.

"Hah...?". Gantian Hanifah yang melongo.



"Mbak, ada koran?" Ibu sepuh itu menghentikan langkah sang pramugari.
"Ada, Ibu. Saya ambilkan dulu, ya. Ibu duduk dulu saja," Prita bergegas ke belakang kabin.

"Pegel, Mbak, kalau duduk terus," keluh si ibu saat Prita kembali.
"Sabar, Ibu. Perjalanan Surabaya-Jeddah memang lama. Silakan, ini korannya."
"Kalau gitu saya tiduran dulu boleh, Mbak?"
"Oh, silakan, Ibu."
"Betul, nggak papa? Makasih, ya, Mbak."

Lima menit kemudian.

"Prit. Ibu itu tadi. Lihat, deh!" seru Anis tertahan.
"Kenapa?"
"Lihat aja!"

"Ibu, maaf, jangan tiduran di situ. Bahaya."
"Lho, tadi katanya boleh."
"Iya, Ibu. Boleh, tapi di tempat duduk, bukan di bawah."
Si ibu bangun dan duduk dengan bingung.
"Tapi ini kelas ekonomi, kan, Mbak?"

Monday Flash Fiction prompt #83 Di Dalam Pesawat




"Aw! Terlalu kencang, Pak."
"Oh, maaf," Pak Wardi mengendorkan ikatan stagen.

"Segini?"
"Kurang, Pak."
"Coba kecilkan perutnya dulu. Biar nanti pas," saran Pak Wardi.

"Ya, betul begitu, Mas Indra. Saya kunci stagennya, ya."
"Ya, Pak."
"Nah. Sudah."

"Atasannya, Pak?"
"Nggak pakai, Mas. Kan ini gaya Jogja basahan. Nggak pakai baju."
"Waduh ... malu dong, Pak."
"Lha gimana, permintaan calon ibu mertua Mas begitu."
"Iya, sih, Pak."

"Lha daripada Mbak Saras yang malu? Sudah berapa bulan to, Mas?"
"Nggak tahu, Pak. Terakhir saya sama Saras ngelakuinnya sebelum Ujian Nasional."

Menjawab tantangan #FFRabu: Hamil

Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung.

"Om, Om, setelah ini nasib Pangeran Api gimana?" rengek Ahmad, Zaki dan Luthfi, keponakannya.
"Rahasia, dong," tukas Joko bangga.
Ahmad dan teman-temannya berteriak kecewa lalu berlari ke halaman.
"Jangan main rahasia sama kami, Om! Nanti kamu rasakan pembalasanku!" Ahmad mengacungkan tinjunya ke arah Joko.

"Tuh, lihat hasil karyamu", Siti, kakaknya, menimpali.

"Jangan main-main denganku, dasar bocah nakal!" Zaki berteriak.
"Siapa yang kau panggil bocah nakal, dasar kau hidung belang! Ciaaat!"
Zaki dan Ahmad bergumul di halaman.

"Mereka sudah susah diatur. Gara-gara sinetronmu itu!" omel Siti.
"Legenda Pedang Api. Apanya yang legenda? Sinetron kok isinya pacaran sama gelut thok!"

Joko tercenung. Ia pun sadar mengapa bukan hanya wajah Siti yang menua begitu cepat seolah terlihat sepuluh tahun lebih tua, tapi juga wajah-wajah penduduk kampung. Barangkali anak-anak mereka itulah penonton setia hasil karyanya yang kejar tayang setiap malam.

gelut thok: berkelahi saja

Menjawab panggilan PromptQuiz #6: Kepulangan Joko.

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

"Mas Koyo," orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. "Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci," katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. "Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini," sambungnya.

Aku mengiyakan ajakan Kiswoyo meski aku tak kenal betul siapa dirinya. Tapi jika tak ikut Kiswoyo, mau ke mana aku?

Adzan maghrib menggema. Masjid-masjid menggeliat. Kulirik Kiswoyo di sebelahku yang sedang menyetir mobil pick-up tua ini. "Masih jauh, Mas?" tanyaku. "Sebentar lagi," jawab Kiswoyo. Mobil yang kami tunggangi bergoncang-goncang keras. Jalanan ini penuh lubang rupanya. "Kita sholat dulu saja, Mas," pintaku. Kiswoyo menggeleng. "Sudah hampir sampai."

Dua puluh menit kemudian kami baru berhenti di depan rumah berpagar. Bau asap knalpot bercampur debu jalanan menyeruak. Aku membuka pintu mobil lalu turun. Kucangklong satu-satunya harta yang kumiliki: ransel tua milik Uci. Selama sepuluh tahun di penjara, hanya ransel inilah yang menemaniku. Uci memberikannya saat menjengukku untuk pertama kali dan terakhir kalinya. Mungkin ia malu punya suami pembunuh.

Kiswoyo membuka pagar. Aku masih berdiri mematung di samping mobil tatkala pintu rumah terbuka dan dua anak kecil keluar dari sana. Kiswoyo melambaikan tangan mengajakku masuk. Aku mendekat.

"Sini, Mas. Ini Tari dan ini Dimas." Aku tersenyum kepada dua anak itu. Usia mereka kira-kira 7 dan 5 tahun. Wajah mereka tak mirip, tapi keduanya punya sorot mata yang tajam, alis yang tebal membingkai dan hidung mancung.

"Anaknya cantik dan ganteng, Mas" aku berbasa-basi. Kiswoyo tertawa. "Bukan anakku, Mas. Tapi anaknya Mbak Uci." Tubuhku kaku. "Yang besar lahir di Malaysia, yang kecil lahir di sini."

Tubuhku lemas. Uci? "Mbak Uci punya kontrak baru. Dua hari lagi berangkat ke Taiwan. Tapi nggak perlu khawatir, anak-anak ini sudah biasa ikut saya."

-Selesai-

MFF #70

Sudah sejak semalam aku mendengar keributan ini: seorang ibu mencari anak-anaknya yang menghilang. Siang ini suaranya parau, makin mengiris hatiku.

Kulihat ia memanggil-manggil anaknya di setiap rumah di gang ini. Lalu pergi untuk kembali lagi meneriaki rumah-rumah kami. Mungkin dia memanggil nama anaknya atau apa, aku tidak tahu. Bahasanya asing bagi warga di sini.
Aku sungguh tak tega. Ingin aku membantunya, tapi bagaimana caranya? Didekati saja ia tak mau. Ia pasti akan langsung ambil langkah seribu jika ada yang mendekat.

Aku membuka pintu dan keluar ke teras. Rupanya bukan hanya aku yang memperhatikan ibu setengah tua itu. Tetangga sebelah rumah pun juga kulihat sedang memperhatikannya. Aku mendekat kepada tetanggaku itu. Senyumku kutawarkan kepadanya. Ia menyambutku.

"Kasihan dia.", kata tetanggaku tanpa kutanya terlebih dahulu. Aku menunggu kalimat berikutnya. "Dua anaknya diambil pemilik rumah semalam dan dibawa entah ke mana." Aku mengangguk-angguk. Ibu mana yang sanggup berpisah dari anak-anaknya?

Si ibu itu memang tak punya rumah untuk berlindung. Ia hidup berpindah-pindah tempat. Rupanya kali ini si pemilik rumah merasa keberatan dengan kehadirannya bersama kedua anaknya yang beranjak besar.

Mungkinkah anak-anak itu merusak barang-barang si pemilik rumah? Atau mengotorinya? Atau si ibu itu kerap mencuri lauk di meja makan? Entahlah. Yang jelas kini ia merintih-rintih memanggil anaknya. Badannya yang besar menjadi kusam warnanya. Ekornya pun lebih banyak terkulai lesu. Ah, kasihan kau, pus.

-Selesai-



"Tolong ya, sayang. Aku harus membawanya sore nanti. Aku tahu kau bisa menemukannya".  Frank mengecup kening  Marisol,  istrinya. "Tapi, Frank, aku masih harus mengantar anak-anak ke sekolah. Aku tak kan bisa". Marisol menggelengkan kepalanya. Frank menggenggam tangan Marisol. "Kamu bisa, sayang. You're my super woman", ucap Frank lembut. Marisol menghela napas berat. "Oke, Frank. Akan kucarikan buku itu untukmu". Frank mengecup kening istrinya lagi. "Terima kasih". Lalu ia pergi dengan terburu-buru ke kantor. Seperti biasa, Frank mengecup pipi keempat anaknya dengan secepat kilat, mengucapkan "I love you" kepada mereka lalu pergi. Anak-anak itu tak terlalu mengacuhkan ayah mereka. Bagi mereka, Frank cuma mampir sarapan saja di rumah.

Marisol membuka pintu ruang perpustakaan. Bau kertas tua berebut keluar. Rak-rak tinggi berdiri angkuh di sana. Ruang itu tak terlalu luas, namun sangat padat. Klik! Marisol menyalakan lampu. Sebuah sofa berwarna hijau menunggu di sana.

Sumber flavorwire.com

"Baiklah", ucap Marisol pelan. "Akan kutemukan buku itu untukmu, Frank". Tubuhnya terasa begitu penat. Seperti biasa, malamnya berakhir terlalu cepat. Selalu ada pekerjaan menanti dituntaskan. Jam mengurus keempat anaknya baru berakhir ketika mereka tertidur. Usai itu Frank datang menumpahkan semua rasa lelahnya kepadanya. Pagi ini pun setelah mengantar ketiga anaknya ke sekolah, Marisol menghabiskan seluruh pekerjaan rumah tangganya sambil menjaga si bayi yang masih menyusu. Satu jam sebelum jadwal menjemput anak-anaknya datang, ia baru mulai menyisir perpustakaan.

Bukan pekerjaan mudah bagi Marisol untuk menelusuri rak demi rak. Ia pun naik-turun tangga mencari. Lututnya yang menua makin berderit. Makin lama makin gemetar. Napasnya terengah-engah.

"Ini dia, ini dia, Frank. Untukmu. Dari sang super woman". Marisol mendekap buku tua itu di dadanya. Ia pun jatuh kelelahan di sofa. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum.

Alarm di ponsel Marisol berdering mengingatkan. Waktunya menjemput anak-anak dan mengantar buku tua pesanan Frank ke kantornya. Marisol bangkit dan bergegas. "Aku memang super woman", gumamnya. "Frank pasti bangga kepadaku".

#

Nun jauh di sana, Frank sedang bercengkerama dengan seorang perempuan muda di kafe. "Istriku? Ah, dia hanya perempuan biasa. Empat anak membuatnya terlihat membosankan". Perempuan muda itu tertawa bersama Frank.

-Selesai-

Monday Flash Fiction Prompt #52

Hujan! Aku harus pulang. Tapi...jemuran! Oh, tidak, tidak. Harus segera kuangkat! Hap, hap, hap.

Setengah berlari kupaksa tumpukan pakaian ini menerobos pintu rumah. Cepat, cepat! Masih ada lagi yang lain! Cepat, angkat semua lalu pulang.

Hujan menderas. Tak ada celah untuk menghindari tetesannya. Berarti tak ada kesempatan untuk pulang. Padahal Ibu menunggu di rumah. Ibu. Semoga aku selamat tiba di rumah.

Suara televisi terdengar. Film anak-anak. Suara tawa penontonnya menggelegar mengalahkan suara hujan. Oh, iya. Aku lupa. Bocor. Belum kusiapkan ember di bawahnya. Di dekat kompor, dua titik di gudang, dan masih ada lagi yang lain. Cepat, cepat! Sebelum air membanjir. Satu ember, dua ember, satu panci. Semoga cukup.

Aku kembali ke kamar. Berselancar di dunia maya. Tapi...oh, tidak! Penutup lubang pembuangan kamar mandi belum kubuka! Air dari talang yang dibuang ke kamar mandi bisa memenuhi ruangan lalu meluber ke mana-mana. Cepat, cepat!

Dua bocah mungil masih sibuk menonton televisi. Mereka belum bisa membantuku. Tak apa. Setidaknya tadi salah satu dari mereka memberi tahuku hujan turun.

Ke kamar lagi. Semoga sudah semua diamankan. Hujan masih deras. Berangin. Ah, Ibu, aku harus segera pulang. Kuyakin Ibu sedang menungguku. Menantiku dengan handuk dan air hangat untuk mandi. Lalu segelas teh hangat pun hadir menambah kehangatan. Kehangatan kasih Ibu.

Suara tangis bocah pecah di ruang tengah. Salah satu bocah kecil itu rupanya merasa dizolimi saudaranya. Tangisnya menuju ke arahku.
"Ibuuuuu..."
Aku kaget.
"Ya, Dek. Kenapa?"
Kupeluk tubuhnya.
"Kakak nakal", adunya.
Kuusap pipinya yang basah.
"Nakalnya gimana?", tanyaku.
Si bocah kecil ini pun menumpahkan ceritanya kepadaku. Aku pun menengahi mereka berdua. Sudah tugasku. Sudah takdirku.

Hujan masih turun. Ibu, meski aku sudah berkeluarga, namun hujan selalu mengingatkanku akan dirimu. Aku seakan harus pulang ke pangkuanmu. Rumahku adalah dirimu.

Ibu, kini akulah yang akan menjadi tujuan pulang bagi dua bocah kecil ini kala hujan turun.

-Selesai-



LET’S BE FRIENDS

Labels

10% fiksi 100% fiksi 25% fiksi 50% fiksi 75% fiksi 90% fiksi FFRabu

recent posts

Blog Archive

  • Mei (2)
  • November (2)
  • September (2)
  • Agustus (2)
  • Juli (1)
  • Mei (4)
  • April (1)
  • Januari (2)
  • Desember (4)
  • November (1)
  • Oktober (1)
  • September (1)
  • Agustus (2)
  • Juli (2)
  • Juni (3)
  • Mei (2)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates