Postingan

Sebuah Saran

Mobil bercat merah itu bergerak menjauh. Aldi mencengkeram lengan Tomo yang berdiri di muka pintu kuat-kuat. "Maaak...!" tangis bocah berumur 2 tahun itu kencang. Tomo makin mengencangkan gendongannya. "Mamakmu sudah pindah jauh. Suatu hari kau akan menyusulnya," parau suara Tomo. Tangis Aldi makin pecah. Bu Puji menyeka air matanya. "Istrimu akan langsung masuk ruang isolasi. Selanjutnya Dinas Kesehatan yang menanganinya." Tomo menganggukkan kepalanya kepada perempuan paruh baya berbadan subur itu. "Oya, Pak Tomo. Saran saya, sebaiknya kau jangan menikah lagi. Kasihan istri dan anak-anakmu nanti." Tomo tertunduk. "Tapi kalau dengan sesama penderita AIDS boleh, kan, Bu?"

Undangan

Gambar
"Mas, sampeyan dapat undangan. Mau datang?"

"Nggak, Dik. Males," Arif menjawab pertanyaan Laili dengan enggan.

"Apa sampeyan masih capek pulang dari Taiwan? Masih seminggu lagi kok, Mas."

"Kamu itu bujuk-bujuk aku apa ada maunya?" tanya Arif setengah menuduh adik semata wayangnya itu.

"Ealah...ya nggak to, Mas. Gimana juga kedua calonnya kan sahabatnya sampeyan semua. Nggak enak kalau nggak datang," jawab Laili.

"Ya karena mereka berdua temanku itu, makanya aku nggak datang," balas Arif.

"Kalau sampeyan nggak datang, aku bakal kena masalah, Mas."

"Lha, kok bisa?"

"Aku sudah terlanjur janji sama Pak RT kalau sampeyan pasti ikut. Makanya dibela-belain dibuatin undangan walaupun waktu pendaftarannya sudah habis."

"Pak RT njagoni siapa calon lurahnya?" tanya Arif.

Hubungan Segitiga

Gambar
"Aaargh...!!"

Hanifah menoleh. Ika sedang memegangi kepalanya. Beberapa pasang mata di perpustakaan SMA itu pun menengok ke arahnya.

"Kenapa, Ka?"tanya Hanifah pelan.

"Andai orang-orang jenius itu tak pernah ada," keluh Ika.

"Heh! Nggak boleh berandai-andai. Dosa, tauk!", tegur Hanifah setengah berbisik.

"Eh, iya. Astaghfirulloh," Ika menutup mulutnya.

"Lah, ini soal-soalnya susah sekali, Nif. Ampun deh, ujian Fisika ini nanti aku bisa atau enggak. Hukum Faraday. Rumusnya... Hmmh..." Ika melanjutkan keluhannya.

"Jangan ngapalin rumus, Ka. Pahami logikanya saja," saran Hanifah.

Ika manyun. "Hah, gimana aku bisa paham logika profesor jenius Faraday?!"

"Idih, Faraday bukan profesor, Ka. Sekolah saja enggak tamat, kok".

Ika melongo.

"Kok bisa, Nif?"

"Faraday itu waktu sekolah dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran oleh gurunya, jadi dia enggak lanjutin sekolahnya. Matematika saja dia enggak …

#FFRabu - Tanpa Senyum

"Ini Ibu," Nini menunjuk sosok gadis kecil yang tersenyum ke arah kamera.
"Yang ini?" tanya Andi.
"Ini Bulik Siti. Yang nomor lima." "Ini Eyang Par?"
"Bukan. Ini Eyang Utik. Ibunya Ibu. Eyang Par yang tadi berfoto sama kita di pelaminan," jawab Nini.
"Setelah Eyang Utik meninggal, Eyang Kakung menikah lagi." "Iya sih, memang beda raut wajahnya. Eyang Utik galak, ya?"
"Kok tahu?" Nini terheran-heran.
"Di fotonya nggak pernah senyum," jawab Andi. "Iya sih. Entah kenapa."
"Kukira karena ini," Andi menunjuk beberapa foto.
"Yang ini masih tiga. Lalu lima. Tujuh. Sembilan. Sepuluh anak."

#FFRabu - Telat

"Yang...Yang," suara lembut Sugeng memanggil Harsih.
Harsih mencibir suaminya. "Kau sudah telat 28 tahun, Pak."
Sugeng mengangkat badan dan kepalanya dengan heran. "Dulu pas manten anyar nggak pernah manggil aku gitu," sedikit sengak Harsih meneruskan perkataannya.
Sugeng tersenyum kecil, lalu membungkuk lagi.
Ia melangkah pelan meninggalkan Harsih. "Satu, dua, satu, dua," ucapnya sambil terkekeh-kekeh.
Harsih diam-diam tersenyum melihat tingkah suaminya. "Hesti...!" suara Sugeng memanggil seseorang.
"Sudah, ya. Kevin ikut Mama sana. Eyang capek ngikutin kamu belajar jalan."
Hesti meraih Kevin. Harsih muncul mendekat. "Capek, Yang?" tanyanya lembut.
Mereka tertawa. "Kau telat lima menit, Bu."

Jalan Haram

Tak ada ketukan di pintu ataupun panggilan di ponsel yang dihiraukannya. Nina sibuk dengan air matanya. "Ma..." panggil Hari, suaminya, dari depan pintu rumah yang terkunci. Sudah setengah jam Hari begini. Sudah setengah jam pula Nina membeku di dalam sana. Sebuah pesan masuk ke ponsel Nina, "Ma, nyalakan internetnya. Aku mau pulang." "Tidak! Berikan saja semua passwordmu. Password email, facebook, twitter, semuanya! Biar aku yang hapus!" balas Nina. Hari tertegun. "Aku tak sudi kauberi nafkah dari jalan yang haram!" tulis Nina lagi. "Baik, Ma. Password emailku: 'mamacantiksekalihariini'. Facebook:..." Hari memberikan semua password akun-akunnya di dunia maya. Nina menyalakan wi-fi. Matanya nanar menatap layar komputer di hadapannya. "Pergilah ke tempat sampah, kau, blog dewasa busuk!" MFF Prompt #86: Tersesat Di Dunia Maya

#FFRabu-Terpeleset

Oh, tidak! Dia kini berdiri dua langkah di depanku. Padahal beberapa menit yang lalu aku yang berada di depannya. Dia melangkah lagi. Kini lebih jauh. Oh, tidak! Aku yang mulai duluan tapi kenapa sekarang keadaannya berbalik? "Maaf, Jan," katanya sambil tertawa meledek. Aku hanya bisa tersenyum kecut. "Permainan belum berakhir, San!" seruku. Sandy terkekeh. Suaranya terdengar menyebalkan sekali. Giliranku sekarang! Hup! Aku melompat-lompat. Tapi...
"Aaah...!!!" aku menjerit.
Aku menginjak seekor ular besar kuning! Lidahnya yang terjulur seperti meledekku. Gara-gara dia aku mundur sepuluh langkah! Sandy tergelak puas.
"Maaf, Jan. Dua langkah lagi aku sampai 'finish'. Dadunya, tolong."

#FFRabu-Tukang Lembur

22:59. Seperti kemarin dan kemarin lusa dan kemarinnya lagi dan kemarin-kemarin sebelumnya, Dini masih terjaga. Matanya yang lelah memaksa tubuhnya bekerja. Sesekali diliriknya ponselnya. "Kerja rodi apa, Bu, malam ini?" Dini tersenyum. Guyonan khas sesama tukang lembur di jam segini memang kadang keterlaluan. Kalau tak waspada, hati bisa ternodai oleh perasaan tak ikhlas. "Nih, tumpeng dua biji! Wkwkwk..." tulisnya. Klik! "Eksis dulu, ah. Biar emak-emak juga." Sebuah foto berlatar dua gunungan jemuran baju ia lampirkan. "Wkwkwk..." balas yang di sana. "Gue lagi ngelembur di ranjang," lanjut yang di sana diiringi fotonya sedang berbaring menyusui sang bayi.