Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Plagiarisme

Gambar
Suapan ini berakhir pada urutan kelima. Pak Mat membuang mukanya saat sendok keenam kusodorkan kepadanya. "Sudah, Pak. Aku tak sanggup lagi". Aku mengalah. Kuturunkan sendok kembali ke piring. Bubur nasi hangat itu mendingin dan membenamkan sendok ke dalamnya."Matahari tak pernah terbit lagi, kan, Pak Han?", tanya Pak Mat. Doktor Mat, tepatnya. Aku tersenyum. Kugeser posisi dudukku di samping ranjang Pak Mat. Suasana ruang VVIP rumah sakit ini begitu sunyi, hanya ada aku dan Pak Mat. Sunyi yang memilukan."Tidak, Pak. Matahari masih setia terbit", kataku pelan. Pak Mat menggeleng. "Aku berharap tidak begitu, Pak Han. Biar kegelapan menenggelamkanku dan seluruh dunia". Mendadak tubuh Pak Mat berguncang-guncang. Ia menangis. Kubiarkan ia melampiaskan emosinya. Selang infus di tangannya ikut menari pilu. "Bahkan istri dan anakku pun tak sudi menerima aibku...", keluh Pak Mat di sela-sela lelehan air matanya. Wajah lelaki lima puluhan tahun…

Untung Belum Terlanjur Hafal

Gambar
Masjid Al-Fattah sore itu sepi. Hanya ada dua gadis duduk di terasnya. "Nah. Ini naskahnya", Dwi mengulurkan lembaran kertas berisi naskah ceramah kepada Tari. "Tidak banyak, kan, Mbak?", kata Tari memelas. "Cuma dua halaman kok, Dik", jawab Dwi. "Tapi belum termasuk kutipan ayat Al-Qurannya, lho", lanjut Dwi. "Haaah...", keluh Tari. Dwi, mahasiswi semester tiga Universitas Islam Negeri itu tertawa melihat ekspresi Tari. "Sudah. Coba kamu baca dulu naskahnya. Itu sudah kuhitung. Kira-kira jadi sepanjang lima menit", kata Dwi menjelaskan.Pekan depan Tari akan mengikuti Lomba Dai Cilik dalam Festival Anak Sholeh tingkat kecamatan. Lomba Dai Cilik itu sendiri terbagi dalam tiga kategori, yaitu dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Tari akan bertanding dalam kategori bahasa Inggris. Ini pertama kalinya Tari ikut. Rasa grogi mendera gadis berumur sebelas tahun itu. Berbicara di depan umum memang bukan hal asing baginya, tapi b…