hari hari fiksi

Sekian % Fiksi

Diberdayakan oleh Blogger.

"Mas, sampeyan dapat undangan. Mau datang?"

"Nggak, Dik. Males," Arif menjawab pertanyaan Laili dengan enggan.

"Apa sampeyan masih capek pulang dari Taiwan? Masih seminggu lagi kok, Mas."

"Kamu itu bujuk-bujuk aku apa ada maunya?" tanya Arif setengah menuduh adik semata wayangnya itu.

"Ealah...ya nggak to, Mas. Gimana juga kedua calonnya kan sahabatnya sampeyan semua. Nggak enak kalau nggak datang," jawab Laili.

"Ya karena mereka berdua temanku itu, makanya aku nggak datang," balas Arif.

"Kalau sampeyan nggak datang, aku bakal kena masalah, Mas."

"Lha, kok bisa?"

"Aku sudah terlanjur janji sama Pak RT kalau sampeyan pasti ikut. Makanya dibela-belain dibuatin undangan walaupun waktu pendaftarannya sudah habis."

"Pak RT njagoni siapa calon lurahnya?" tanya Arif.



"Aaargh...!!"

Hanifah menoleh. Ika sedang memegangi kepalanya. Beberapa pasang mata di perpustakaan SMA itu pun menengok ke arahnya.

"Kenapa, Ka?"tanya Hanifah pelan.

"Andai orang-orang jenius itu tak pernah ada," keluh Ika.

"Heh! Nggak boleh berandai-andai. Dosa, tauk!", tegur Hanifah setengah berbisik.

"Eh, iya. Astaghfirulloh," Ika menutup mulutnya.

"Lah, ini soal-soalnya susah sekali, Nif. Ampun deh, ujian Fisika ini nanti aku bisa atau enggak. Hukum Faraday. Rumusnya... Hmmh..." Ika melanjutkan keluhannya.

"Jangan ngapalin rumus, Ka. Pahami logikanya saja," saran Hanifah.

Ika manyun. "Hah, gimana aku bisa paham logika profesor jenius Faraday?!"

"Idih, Faraday bukan profesor, Ka. Sekolah saja enggak tamat, kok".

Ika melongo.

"Kok bisa, Nif?"

"Faraday itu waktu sekolah dianggap tidak bisa mengikuti pelajaran oleh gurunya, jadi dia enggak lanjutin sekolahnya. Matematika saja dia enggak bisa,"papar Hanifah.

Ika makin melongo.

"Lah, terus yang buat rumus-rumus ini siapa?"

"Maxwell. Dia yang menerjemahkan hasil percobaan Faraday ke dalam bahasa Matematika."

"Tapi Faraday itu kreatif, Ka. Dia juga rajin mencatat hasil percobaannya. Makanya dia berhasil menemukan hubungan segitiga antara medan magnet, listrik dan cahaya," lanjut Hanifah sambil menutup bukunya.

"Listrik dipengaruhi oleh medan magnet. Jadi, perubahan pada medan magnet menghasilkan listrik. Itu konsep Hukum Faraday."

"Hebat...," sahut Ika.

"Iya, Ka. Tapi pernah juga lho Faraday kehilangan memorinya menjelang usia senja. Sampai-sampai ia mengalami masa sulit. Tapi karena sudah takdir mungkin, di penghujung karirnya ia menemukan hubungan medan magnet dengan cahaya."

"Faraday berprinsip 'Tiada yang Terlalu Indah untuk Menjadi Kenyataan, Sepanjang Sesuai dengan Hukum Alam'. Keren, kan?"

Ika masih melongo.

"Keren..."

"Memang Faraday keren," Hanifah tersenyum.

"Bukan dia, Nif. Kamu tuh yang keren!". Ika menepuk bahu Hanifah.

"Hah...?". Gantian Hanifah yang melongo.



"Ini Ibu," Nini menunjuk sosok gadis kecil yang tersenyum ke arah kamera.
"Yang ini?" tanya Andi.
"Ini Bulik Siti. Yang nomor lima."

"Ini Eyang Par?"
"Bukan. Ini Eyang Utik. Ibunya Ibu. Eyang Par yang tadi berfoto sama kita di pelaminan," jawab Nini.
"Setelah Eyang Utik meninggal, Eyang Kakung menikah lagi."

"Iya sih, memang beda raut wajahnya. Eyang Utik galak, ya?"
"Kok tahu?" Nini terheran-heran.
"Di fotonya nggak pernah senyum," jawab Andi.

"Iya sih. Entah kenapa."
"Kukira karena ini," Andi menunjuk beberapa foto.
"Yang ini masih tiga. Lalu lima. Tujuh. Sembilan. Sepuluh anak."

 


"Yang...Yang," suara lembut Sugeng memanggil Harsih.
Harsih mencibir suaminya. "Kau sudah telat 28 tahun, Pak."
Sugeng mengangkat badan dan kepalanya dengan heran.

"Dulu pas manten anyar nggak pernah manggil aku gitu," sedikit sengak Harsih meneruskan perkataannya.
Sugeng tersenyum kecil, lalu membungkuk lagi.
Ia melangkah pelan meninggalkan Harsih. "Satu, dua, satu, dua," ucapnya sambil terkekeh-kekeh.
 
Harsih diam-diam tersenyum melihat tingkah suaminya.

"Hesti...!" suara Sugeng memanggil seseorang.
"Sudah, ya. Kevin ikut Mama sana. Eyang capek ngikutin kamu belajar jalan."
Hesti meraih Kevin.

Harsih muncul mendekat. "Capek, Yang?" tanyanya lembut.
 
Mereka tertawa. "Kau telat lima menit, Bu."



Tak ada ketukan di pintu ataupun panggilan di ponsel yang dihiraukannya. Nina sibuk dengan air matanya.

"Ma..." panggil Hari, suaminya, dari depan pintu rumah yang terkunci. Sudah setengah jam Hari begini. Sudah setengah jam pula Nina membeku di dalam sana.

Sebuah pesan masuk ke ponsel Nina, "Ma, nyalakan internetnya. Aku mau pulang."

"Tidak! Berikan saja semua passwordmu. Password email, facebook, twitter, semuanya! Biar aku yang hapus!" balas Nina.

Hari tertegun.

"Aku tak sudi kauberi nafkah dari jalan yang haram!" tulis Nina lagi.

"Baik, Ma. Password emailku: 'mamacantiksekalihariini'. Facebook:..." Hari memberikan semua password akun-akunnya di dunia maya.

Nina menyalakan wi-fi. Matanya nanar menatap layar komputer di hadapannya.

"Pergilah ke tempat sampah, kau, blog dewasa busuk!"

MFF Prompt #86: Tersesat Di Dunia Maya



Oh, tidak! Dia kini berdiri dua langkah di depanku. Padahal beberapa menit yang lalu aku yang berada di depannya.

Dia melangkah lagi. Kini lebih jauh. Oh, tidak! Aku yang mulai duluan tapi kenapa sekarang keadaannya berbalik?

"Maaf, Jan," katanya sambil tertawa meledek.

Aku hanya bisa tersenyum kecut. "Permainan belum berakhir, San!" seruku.

Sandy terkekeh. Suaranya terdengar menyebalkan sekali.

Giliranku sekarang! Hup! Aku melompat-lompat. Tapi...
"Aaah...!!!" aku menjerit.
Aku menginjak seekor ular besar kuning! Lidahnya yang terjulur seperti meledekku. Gara-gara dia aku mundur sepuluh langkah!

Sandy tergelak puas.
"Maaf, Jan. Dua langkah lagi aku sampai 'finish'. Dadunya, tolong."



22:59. Seperti kemarin dan kemarin lusa dan kemarinnya lagi dan kemarin-kemarin sebelumnya, Dini masih terjaga. Matanya yang lelah memaksa tubuhnya bekerja. Sesekali diliriknya ponselnya.

"Kerja rodi apa, Bu, malam ini?"

Dini tersenyum. Guyonan khas sesama tukang lembur di jam segini memang kadang keterlaluan. Kalau tak waspada, hati bisa ternodai oleh perasaan tak ikhlas.

"Nih, tumpeng dua biji! Wkwkwk..." tulisnya.

Klik!

"Eksis dulu, ah. Biar emak-emak juga." Sebuah foto berlatar dua gunungan jemuran baju ia lampirkan.

"Wkwkwk..." balas yang di sana.

"Gue lagi ngelembur di ranjang," lanjut yang di sana diiringi fotonya sedang berbaring menyusui sang bayi.



"Bukan...bukan begitu. Warnanya...perak transparan."

"Bukan...bukan begitu. Sedikit...lebih gelap lagi..."

"Ya...begitu. Terima kasih... Tolong kirim rinduku...lewat mimpinya...sekarang..."

Denny menarik napas terakhirnya. Makhluk hijau pendek dengan sepasang antena di kepala itu memandang sketsa lukisan Denny yang telah ia bantu selesaikan.

Antenanya tegak berdiri siap mengirim sinyal. Tujuan pengiriman: Laura, Bumi bagian Selatan. Dari Denny, Middle Mars. Awak terakhir misi hijrah pertama.

MFF Prompt #85: Sang Pelukis Bulan



"Mbak, ada koran?" Ibu sepuh itu menghentikan langkah sang pramugari.
"Ada, Ibu. Saya ambilkan dulu, ya. Ibu duduk dulu saja," Prita bergegas ke belakang kabin.

"Pegel, Mbak, kalau duduk terus," keluh si ibu saat Prita kembali.
"Sabar, Ibu. Perjalanan Surabaya-Jeddah memang lama. Silakan, ini korannya."
"Kalau gitu saya tiduran dulu boleh, Mbak?"
"Oh, silakan, Ibu."
"Betul, nggak papa? Makasih, ya, Mbak."

Lima menit kemudian.

"Prit. Ibu itu tadi. Lihat, deh!" seru Anis tertahan.
"Kenapa?"
"Lihat aja!"

"Ibu, maaf, jangan tiduran di situ. Bahaya."
"Lho, tadi katanya boleh."
"Iya, Ibu. Boleh, tapi di tempat duduk, bukan di bawah."
Si ibu bangun dan duduk dengan bingung.
"Tapi ini kelas ekonomi, kan, Mbak?"

Monday Flash Fiction prompt #83 Di Dalam Pesawat




"Aw! Terlalu kencang, Pak."
"Oh, maaf," Pak Wardi mengendorkan ikatan stagen.

"Segini?"
"Kurang, Pak."
"Coba kecilkan perutnya dulu. Biar nanti pas," saran Pak Wardi.

"Ya, betul begitu, Mas Indra. Saya kunci stagennya, ya."
"Ya, Pak."
"Nah. Sudah."

"Atasannya, Pak?"
"Nggak pakai, Mas. Kan ini gaya Jogja basahan. Nggak pakai baju."
"Waduh ... malu dong, Pak."
"Lha gimana, permintaan calon ibu mertua Mas begitu."
"Iya, sih, Pak."

"Lha daripada Mbak Saras yang malu? Sudah berapa bulan to, Mas?"
"Nggak tahu, Pak. Terakhir saya sama Saras ngelakuinnya sebelum Ujian Nasional."

Menjawab tantangan #FFRabu: Hamil

Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung.

"Om, Om, setelah ini nasib Pangeran Api gimana?" rengek Ahmad, Zaki dan Luthfi, keponakannya.
"Rahasia, dong," tukas Joko bangga.
Ahmad dan teman-temannya berteriak kecewa lalu berlari ke halaman.
"Jangan main rahasia sama kami, Om! Nanti kamu rasakan pembalasanku!" Ahmad mengacungkan tinjunya ke arah Joko.

"Tuh, lihat hasil karyamu", Siti, kakaknya, menimpali.

"Jangan main-main denganku, dasar bocah nakal!" Zaki berteriak.
"Siapa yang kau panggil bocah nakal, dasar kau hidung belang! Ciaaat!"
Zaki dan Ahmad bergumul di halaman.

"Mereka sudah susah diatur. Gara-gara sinetronmu itu!" omel Siti.
"Legenda Pedang Api. Apanya yang legenda? Sinetron kok isinya pacaran sama gelut thok!"

Joko tercenung. Ia pun sadar mengapa bukan hanya wajah Siti yang menua begitu cepat seolah terlihat sepuluh tahun lebih tua, tapi juga wajah-wajah penduduk kampung. Barangkali anak-anak mereka itulah penonton setia hasil karyanya yang kejar tayang setiap malam.

gelut thok: berkelahi saja

Menjawab panggilan PromptQuiz #6: Kepulangan Joko.

Foto milik Febryan Lukito

Klik!
Kau tersenyum. Indah senja di tepi Laut Tengah itu telah berhasil kau abadikan. Kau pandangi ponselmu. Foto profilmu pun berubah sudah. Sekali lagi kau tersenyum, kali ini dengan rasa bangga.

Kriiing ...
Ponselmu berbunyi. Dengan gugup kau jawab panggilan itu. Ibumu!

"Sudah sholat belum? Maghrib-maghrib kok malah keluyuran!"

Menjawab tantangan Prompt #78: Menikmati Senja dengan PoV orang kedua.

Dinding facebooknya telah lama sepi. Update terakhir adalah lima bulan yang lalu. Itu pun hanya sebuah foto jualan ponsel yang dicolekkan kepadanya. Sebelum itu pun tak ada kabar apa-apa. Sepi.

"Yul, datang ke nikahku, ya, sahabatku."

Kutekan tombol 'kirim' dan berharap ia mengomentari undangan dariku yang kukirim di dindingnya.

"Yul. Apa kabar?"
Dinding facebooknya masih sepi. Cuma ada kiriman undangan dariku dua bulan lalu.

"Yul. Kamu sombong."
Kata-kata penuh rasa kesal itu kutumpahkan di dindingnya seminggu yang lalu. Kalau ada BBM atau WA atau nomor ponselnya, pasti sudah kukatai dia.

"Punya nomernya Yuli, nggak, Cha?" tanyaku kepada Chicha, teman SMA-ku dulu lewat BBM.
"Yuli? Yulinda?"
"Iya. Dia sombong banget sih nggak datang ke nikahanku."
"Sin...Yulinda dah meninggal dua minggu yang lalu. Kamu nggak tahu?"
Aku tercekat.
"Dia kena kanker getah bening sejak setahun lalu. Aku juga baru tahu pas melayat."
"Kukira kamu yang sombong nggak datang pas pemakamannya."
Air mataku mengalir.

"Haruskah malam ini, Nawang?"

Jari lentik Nawang menarik ritsliting koper merah marunnya yang terisi padat.

"Haruskah, Nawang?", sekali lagi Joko bertanya.

"Aku harus kembali ke sana, Mas. Di sana aku bisa banyak berbuat, tak seperti di sini."

Joko menatap Nawang dengan sedih.

"Mengertilah, Mas. Demi kita bertiga."

Joko meraih tangan Nawang perlahan.

"Berjanjilah kau akan kembali lagi."

"Bukankah aku sudah kembali lagi, Mas? Aku selalu menepati janjiku untuk kembali kepadamu seperti delapan dan tiga setengah tahun yang lalu."

"Ya, tapi kau belum pernah menepati janjimu untuk tak pergi lagi."

"Apa boleh buat, Mas. Dua tahun lagi Sita sudah harus masuk SMP. Aku khawatir kita tak bisa membiayainya."

"Tapi sekarang sudah ada toko kecil kita ini. Kau tak harus pergi."

Nawang tersenyum.

"Justru itu, Mas. Mas di sini menjalankan toko kita, aku mencari tambahan di Hong Kong."

Joko kehilangan kata-kata. Wibawanya sebagai suami telah runtuh di hadapan dollar.

Livingstone. Zambia-Zimbabwe border. Morning has broken. I wake up lazily. Ray stands up in front of me. His left hand holds the tree branch. "Wake up, you, sleepy head!" I yawn once again. "Look at the trucks over there. They have already come." I look at the street some meters before our eyes. There is a line of cars and trucks there, queueing for the border check.

"Quick, Haile! Or we will get nothing this morning again!" Ray shouts at me. It is like he blames me for what happened yesterday when another group took our breakfast away. I murmur, "It was not my mistake. It was my tounge's." Ray looks at me impatiently. He grabs my hand and pulls me. "Come on!" "Aw, okay, okay!" I scream. "I do not care whether it was you or your tongue who betrayed us yesterday. It was your way of thinking!" Ray lets my hand go. I sigh. "Alright. You are right. I just could not stop speaking." "If you can not control your tongue again this morning, you will have your belly empty for the whole day!"

#

I was in a truck yesterday morning. I saw a lot of canned food inside it. I could not stop laughing happily while I grabbed the cans. The driver caught me red handed and kicked me away from the truck after he took back the cans from my hand. Right after that another group like me came and took whatever they could.

People call us 'thieves'. I call ourselves 'food seekers'. We take fruits, veggies, eggs and even canned food from those trucks for our living. We are quick learners. We smell, sneak and pick.

#

Another small truck approaches the line. "I smell something delicious, Ray," I whisper to Ray. We climb down the tree. "See the back of the truck, Haile? You open the cover while I watch for the other groups over there." Ray points his finger to another side of the street. "Quick! Before they see you. And ... ssshhh. Don't make any noise," Ray puts his pointer finger in front of his mouth. 

I walk as quick as I can. I pay attention to my surrounding before I jump into the back of the truck. Ray walks towards the driver carefully. I grin. He is going to pull the driver's attention so I can take food easily.

"Wow... Watermelons! Bananas! Papayas!" I shout astonishingly. "Our breakfast will be very yummy!" 

I grab the watermelon first. It is round and heavy. I jump out of the truck and shout to Ray, "There are watermelons, bananas and papayas. Which one should I choose?" 

"Pick whichever you can!!" Ray gets panic. "But they are too heavy! Can you help me?" "No, I can't!" Ray shouts back angrily. "Don't you see what I am doing?!" I jump in the truck again and pick one big watermelon while the truck driver shouts at me, "Thief!" I jump out quickly and run. I never thought that he will see me stealing his goods. Ray follows me climbing up the tree. The truck driver runs towards us. "You will pay for that! You will pay for that, you, baboon!!"

Ganto membuka lembaran koran. Baru pukul sembilan tiga puluh. Matanya berkelana ke beberapa judul berita. Punggungnya bersandar ke sofa. Hamdan naik dari lantai satu.

"Ganto." Office boy bertubuh jangkung itu melipat koran dan meletakkannya.
"Ya, Pak." Ganto berdiri menghadap ke arah bosnya.
"Tolong beli keran ukuran 3/4."
Hamdan mengulurkan selembar uang berwarna biru. Ganto mengangguk.
"Untuk ganti keran yang mana, Pak?"
"Kamar mandi rumah saya," jawab Hamdan.
"Baik, Pak."

Ganto yang mengganti keran. Hamdan mengirimi istrinya pesan singkat.
Urusan rumah kok nyuruh orang kantor? balas istrinya.
UMR-nya sudah mencukupi. Biar dia tidak cari obyekan lain.

"Peshawar! Peshawar!" Kata-kata itu terngiang di benak Niar. Langkahnya gontai menyusuri deretan mayat bergelimpangan. Darah tubuh-tubuh kecil itu memerahkan galonan air di kolam.

"Peshawar! Peshawar!" Niar menyeret langkahnya yang sesekali menumbuk mayat-mayat mungil, murid-murid Taman Kanak-kanak tempat ia mengajar. Matanya nanar menatap sunyi yang mencekam. Tengah hari yang anyir. Siang bolong yang asing kala tak terdengar adzan duhur di udara. Hanya desing peluru tiga jam lalu yang tertinggal di relung-relung rumah siput telinga Niar. Desingan bercampur teriakan pilu nan dalam. Suara-suara perpisahan raga dengan ruh. Suara-suara perjumpaan hamba Tuhan dengan malaikat-Nya.

"Peshawar! Peshawar!" Sengatan matahari membakarkan kata-kata itu di wajah Niar yang berjam-jam berpura-pura terbujur kaku di bawahnya. Kata-kata itu pula yang memaksanya menahan paru-parunya agar tak menarik dan membuang napas berdetik-detik.

Air matanya menitik setelah tiga jam. Jilbabnya basah oleh air, gamisnya basah oleh darah. Oleng tubuhnya berjalan, ia pun merangkak melalui belasan tubuh-tubuh syahid para muridnya. Syahidin yang hari ini seharusnya tengah bergembira di kolam renang. Syahidin yang seharusnya sebentar lagi hendak menikmati libur panjang akhir semester. Syahidin yang tak satu pun tersisa menemaninya sekarang. Air mata Niar tertitik lagi. Merah. Anyir. Merah. Anyir. Merah. Anyir. Gelap.

"Peshawar! Peshawar!" Kata-kata itu melaju kencang dari bibir Niar. "Ini bukan Peshawar. Ini bangsal kelas tiga." Suara lembut seseorang membelai Niar.

-Selesai-

FF ini terilhami oleh insiden penembakan berdarah di sebuah sekolah di Peshawar, Pakistan.

Gambar diambil dari mobile.seruu.com

Gambar dari cerbii.devianart.com

Lengkingan gitar elektrik membahana menutup lagu. Teriakan dan tepukan diselingi suitan seakan ingin meruntuhkan ruangan. Aku meletakkan jari telunjuk dan ibu jariku sedikit masuk ke mulutku. "Suiiiit! Suiiiit! Suiiiit!"

Dadaku bergemuruh kencang. Lebih kencang dari yang tadi. Darahku mengalir makin cepat. Napasku memburu. Keringat bercucuran. "Huh...hah...huh...hah..." Kakiku tak berhenti melonjak-lonjak. Tiba-tiba tanpa sadar kulepas pakaianku dan kuputar-putar di udara untuk sesaat sebelum kulemparkan.

"Huaaaaghghghgh.....!!!" Teriakan membahana dari sang rocker membakar nadiku. Membakar nadi-nadi kami, para penonton yang serempak menjawab teriakan itu dengan lengkingan serupa, bagai rombongan monster di malam gelap. "Huaaaaghghghgh...!!!"

Bau alkohol menyeruak di antara kami. Dentuman drum dan lengkingan gitar elektrik kembali terdengar. Dadaku berdegup makin kencang. Darahku mengalir makin cepat. Makin cepat dan makin cepat.

Musik telah meriangkan penghuni dadaku yang menjadikan aliran darah tubuhku sebagai jalan tol. Melumpuhkan nalarku dan menumpulkan logika bahkan mengendalikan gerakku. Aku menyeringai serupa serigala lapar di malam hari yang menemukan mangsanya. Aku menerkam. Mengoyak diriku. Memenggal derajat kemanusiaanku dan menundukkannya pada iblis.

Mobil bercat merah itu bergerak menjauh. Aldi mencengkeram lengan Tomo yang berdiri di muka pintu kuat-kuat. 

"Maaak...!" tangis bocah berumur 2 tahun itu kencang. 

Tomo makin mengencangkan gendongannya. 

"Mamakmu sudah pindah jauh. Suatu hari kau akan menyusulnya," parau suara Tomo. 

Tangis Aldi makin pecah. Bu Puji menyeka air matanya. "Istrimu akan langsung masuk ruang isolasi. Selanjutnya Dinas Kesehatan yang menanganinya." 

Tomo menganggukkan kepalanya kepada perempuan paruh baya berbadan subur itu. 

"Oya, Pak Tomo. Saran saya, sebaiknya kau jangan menikah lagi. Kasihan istri dan anak-anakmu nanti." 

Tomo tertunduk. "Tapi kalau dengan sesama penderita AIDS boleh, kan, Bu?"



"Percaya sama saya, deh, Dok. Istri Dokter pasti jadi kelihatan lebih cantik kalau pakai ini."

Dokter Addin tertawa kecil. "Iya, saya tahu." Rani tersenyum senang. 

"Jadi, istri Pak Dokter mau mencobanya?" Dokter Addin mengangguk. "Boleh. Tapi sekarang kamu ikut Bu Ani ke sana dulu, ya." kata Dokter Addin sambil menunjuk seorang perempuan berseragam putih di teras sebuah gedung. 

Rani beranjak dari bangku taman. "Terima kasih, Dok. Akhirnya ada yang percaya juga." Wajah penuh bekas noda kehitaman itu tersenyum. 

Dokter Addin ikut tersenyum. 

Pedih. 

Ini tahun kedua ia merawat istrinya yang tergoncang jiwanya akibat salah kosmetik.



Newer Posts
Older Posts

LET’S BE FRIENDS

Labels

10% fiksi 100% fiksi 25% fiksi 50% fiksi 75% fiksi 90% fiksi FFRabu

recent posts

Blog Archive

  • Mei (2)
  • November (2)
  • September (2)
  • Agustus (2)
  • Juli (1)
  • Mei (4)
  • April (1)
  • Januari (2)
  • Desember (4)
  • November (1)
  • Oktober (1)
  • September (1)
  • Agustus (2)
  • Juli (2)
  • Juni (3)
  • Mei (2)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates