hari hari fiksi

Sekian % Fiksi

Diberdayakan oleh Blogger.

Pucuk cemara sudah merunduk menyongsong malam. Yang menunggu penjemputan sudah meninggalkan pekarangan dengan puji syukur setinggi langit. Tinggal aku sendiri yang masih mencangkung di pojok sambil terus melotot ke pintu pagar, berharap kalau-kalau ada yang mendekat. Yang ada cuma angin senja, menerbangkan bau rerumputan bercampur debu, memperberat kecemasanku.

"Mas Koyo," orang yang sebentar-sebentar melemparkan pandang ke arahku dari pagar kawat berduri, tiba-tiba menghampiri, merapat, membuatku tegak. "Saya Kiswoyo, masih ada hubungan darah dengan Mbak Uci," katanya menyebutkan nama akrab istriku. Aku merunduk dibuat ucapannya itu. Istri! Bisikku dalam hati. Ada duka di balik kata itu. "Sudah gelap. Kelihatannya dia tak bakalan datang. Kalau Mas tak keberatan, ikut saya saja. Nginap dulu di rumah saya. Tak jauh dari sini," sambungnya.

Aku mengiyakan ajakan Kiswoyo meski aku tak kenal betul siapa dirinya. Tapi jika tak ikut Kiswoyo, mau ke mana aku?

Adzan maghrib menggema. Masjid-masjid menggeliat. Kulirik Kiswoyo di sebelahku yang sedang menyetir mobil pick-up tua ini. "Masih jauh, Mas?" tanyaku. "Sebentar lagi," jawab Kiswoyo. Mobil yang kami tunggangi bergoncang-goncang keras. Jalanan ini penuh lubang rupanya. "Kita sholat dulu saja, Mas," pintaku. Kiswoyo menggeleng. "Sudah hampir sampai."

Dua puluh menit kemudian kami baru berhenti di depan rumah berpagar. Bau asap knalpot bercampur debu jalanan menyeruak. Aku membuka pintu mobil lalu turun. Kucangklong satu-satunya harta yang kumiliki: ransel tua milik Uci. Selama sepuluh tahun di penjara, hanya ransel inilah yang menemaniku. Uci memberikannya saat menjengukku untuk pertama kali dan terakhir kalinya. Mungkin ia malu punya suami pembunuh.

Kiswoyo membuka pagar. Aku masih berdiri mematung di samping mobil tatkala pintu rumah terbuka dan dua anak kecil keluar dari sana. Kiswoyo melambaikan tangan mengajakku masuk. Aku mendekat.

"Sini, Mas. Ini Tari dan ini Dimas." Aku tersenyum kepada dua anak itu. Usia mereka kira-kira 7 dan 5 tahun. Wajah mereka tak mirip, tapi keduanya punya sorot mata yang tajam, alis yang tebal membingkai dan hidung mancung.

"Anaknya cantik dan ganteng, Mas" aku berbasa-basi. Kiswoyo tertawa. "Bukan anakku, Mas. Tapi anaknya Mbak Uci." Tubuhku kaku. "Yang besar lahir di Malaysia, yang kecil lahir di sini."

Tubuhku lemas. Uci? "Mbak Uci punya kontrak baru. Dua hari lagi berangkat ke Taiwan. Tapi nggak perlu khawatir, anak-anak ini sudah biasa ikut saya."

-Selesai-

MFF #70

"Mom, wait! Wait for me!"

I ran as fast as I could. I saw another ice-break in front of me. I had to jump with my little legs. Mom waited for me impatiently.

"Quick! The ice is melting!" said Mom.

I once again jumped over an ice-break. Waters were everywhere. I understood that we could not live without solid ground.

My breath rushed when I made it to stand on a solid icy land. It was white wherever my eyes see. Mom rolled down her body to the ground. I felt like I wanted to do the same thing. My body was exhausted.

"Thank God we've made it, Son. Here is the land of hope, where ice never melt."

I looked to the South. We'd been 150 miles away from my homeland. Behind us, there would be many cubs and their mothers who had to walk and swim North miles away just like what we had done, avoiding the heat of summer that had melted the icy land of Svalbard where we used to live.

"Welcome to the North Pole, young bear."

-End-

"Sudah banyak?" tanya Si Tengah. Si Kiri dan Si Kanan menggeleng pelan. "Sebentar lagi," kata Si Kiri. Rambut ketiganya tertiup angin pagi yang pelan. Sinar matahari dari arah belakang membuat  mereka gembira.

Tingngngng...! Suara alarm terdengar dari tubuh Si Tengah.
"Sudah," kata Si Tengah, lalu berdiri. "Sebentar lagi," Si Kiri memegang tangan Si Tengah, mencegahnya pergi. "Tunggu kami," kata Si Kiri pelan.

Tingngngng...!
Tingngngng...!
Alarm Si Kiri dan Si Kanan berbunyi hampir bersamaan. "Ayo," kata Si Tengah. Tangan besinya meraih kedua temannya. Kulit buatan yang membungkus tubuhnya memerah. "Cepat! Jangan sampai aku melepuh!" kata Si Tengah. Ketiga tubuh besi itu berlari mencari tempat teduh. "Seharusnya Profesor Sukumot menempatkan solar cell di rambut kita saja, bukan di kulit," sungut Si Kiri. "Mari kita minta ia melakukannya," kata Si Tengah. "Yah...kita tunggu ia sembuh dari stroke," jawab Si Kanan.

-Selesai-

Prompt #62

Gambar dari http://m.weheartit.com/entry/116724962

Sudah sejak semalam aku mendengar keributan ini: seorang ibu mencari anak-anaknya yang menghilang. Siang ini suaranya parau, makin mengiris hatiku.

Kulihat ia memanggil-manggil anaknya di setiap rumah di gang ini. Lalu pergi untuk kembali lagi meneriaki rumah-rumah kami. Mungkin dia memanggil nama anaknya atau apa, aku tidak tahu. Bahasanya asing bagi warga di sini.
Aku sungguh tak tega. Ingin aku membantunya, tapi bagaimana caranya? Didekati saja ia tak mau. Ia pasti akan langsung ambil langkah seribu jika ada yang mendekat.

Aku membuka pintu dan keluar ke teras. Rupanya bukan hanya aku yang memperhatikan ibu setengah tua itu. Tetangga sebelah rumah pun juga kulihat sedang memperhatikannya. Aku mendekat kepada tetanggaku itu. Senyumku kutawarkan kepadanya. Ia menyambutku.

"Kasihan dia.", kata tetanggaku tanpa kutanya terlebih dahulu. Aku menunggu kalimat berikutnya. "Dua anaknya diambil pemilik rumah semalam dan dibawa entah ke mana." Aku mengangguk-angguk. Ibu mana yang sanggup berpisah dari anak-anaknya?

Si ibu itu memang tak punya rumah untuk berlindung. Ia hidup berpindah-pindah tempat. Rupanya kali ini si pemilik rumah merasa keberatan dengan kehadirannya bersama kedua anaknya yang beranjak besar.

Mungkinkah anak-anak itu merusak barang-barang si pemilik rumah? Atau mengotorinya? Atau si ibu itu kerap mencuri lauk di meja makan? Entahlah. Yang jelas kini ia merintih-rintih memanggil anaknya. Badannya yang besar menjadi kusam warnanya. Ekornya pun lebih banyak terkulai lesu. Ah, kasihan kau, pus.

-Selesai-



"Nilaiku di bulan Ramadan cuma 25", kata Ifa tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya. "Dari mana kamu tahu?", tanyaku. "Bukankah hanya Alloh yang tahu nilai ibadah puasa kita?", lanjutku.

Adikku yang beranjak remaja itu menggerak-gerakkan jari telunjuknya ke arahku sambil tersenyum penuh misteri. "Tahu, dong, Kaaak...", katanya yang membuatku jadi penasaran.

"Cara tahunya bagaimana?". Kuletakkan buku pelajaran kimiaku di meja lalu kuhampiri Ifa. Sepertinya asyik mendiskusikan sesuatu dengan Ifa di tengah keruwetan pikiranku begitu naik ke kelas 12 ini. Ifa selalu punya teori yang menakjubkan. Khas anak-anak, sangat murni dan jujur, tapi seringkali benar. Tidak rugi punya adik yang berselisih usia lima tahun denganku ini.

"Begini. Selama Ramadan aku ikut tarawih di masjid delapan rokaat dan witir tiga rokaat. Nah, ternyata, setelah Ramadan berlalu ternyata aku hanya bisa mengerjakan dua rokaat saja tiap solat tahajud dan tiga rokaat solat witir. Jadi dua per delapan sama dengan seperempat alias 25%, yang artinya nilaiku 25 dari 100".

"Oooh...begitu ya, Fa. Betul juga teorimu". Ifa yang solihah dan cerdas. Perhitungan seperti ini bisa menjadi gambaran, apakah ibadah kita di bulan Ramadan membekas atau tidak.

"Nah, kalau nilai Kakak berapa?", tanya Ifa. "Mmm...berapa, ya?", jawabku pura-pura bodoh. Padahal sudah jelas: nilaiku nol.

-Selesai-



Suapan ini berakhir pada urutan kelima. Pak Mat membuang mukanya saat sendok keenam kusodorkan kepadanya. "Sudah, Pak. Aku tak sanggup lagi". Aku mengalah. Kuturunkan sendok kembali ke piring. Bubur nasi hangat itu mendingin dan membenamkan sendok ke dalamnya.

"Matahari tak pernah terbit lagi, kan, Pak Han?", tanya Pak Mat. Doktor Mat, tepatnya. Aku tersenyum. Kugeser posisi dudukku di samping ranjang Pak Mat. Suasana ruang VVIP rumah sakit ini begitu sunyi, hanya ada aku dan Pak Mat. Sunyi yang memilukan.

"Tidak, Pak. Matahari masih setia terbit", kataku pelan. Pak Mat menggeleng. "Aku berharap tidak begitu, Pak Han. Biar kegelapan menenggelamkanku dan seluruh dunia".

Mendadak tubuh Pak Mat berguncang-guncang. Ia menangis. Kubiarkan ia melampiaskan emosinya. Selang infus di tangannya ikut menari pilu. "Bahkan istri dan anakku pun tak sudi menerima aibku...", keluh Pak Mat di sela-sela lelehan air matanya. Wajah lelaki lima puluhan tahun ini begitu sedih. "Hitam sudah nama baikku".

Aku merasa kikuk. Mendampingi seorang lelaki menangis bukanlah perkara gampang. Apatah lagi mendengarnya membuka aibnya sendiri. "Jangan begitu, Pak. Tak semua orang yang pernah melakukan keburukan berakhir kelam. Selalu ada jalan keluar. Karena di balik hitam kau akan menemukan terang. Yakinlah, Tuhan itu Maha Penerima Taubat".

Mendengarku berkata begitu, Pak Mat makin tersungkur dalam derai air mata. Jiwanya merapuh laksana kaca yang terserpih. Tercebur dalam danau kelam di tepian kota tempat tubuhnya yang belum mati ditemukan orang tiga malam yang lalu yang membuat keesokan harinya koran setempat memberitakan besar-besaran "Kandidat Guru Besar Melakukan Percobaan Bunuh Diri Akibat Tuduhan Plagiarisme".

-Selesai-

Prompt #58: Darkness
251 kata

Gambar dipinjam dari devianart

Masjid Al-Fattah sore itu sepi. Hanya ada dua gadis duduk di terasnya.

"Nah. Ini naskahnya", Dwi mengulurkan lembaran kertas berisi naskah ceramah kepada Tari. "Tidak banyak, kan, Mbak?", kata Tari memelas. "Cuma dua halaman kok, Dik", jawab Dwi. "Tapi belum termasuk kutipan ayat Al-Qurannya, lho", lanjut Dwi. "Haaah...", keluh Tari. Dwi, mahasiswi semester tiga Universitas Islam Negeri itu tertawa melihat ekspresi Tari. "Sudah. Coba kamu baca dulu naskahnya. Itu sudah kuhitung. Kira-kira jadi sepanjang lima menit", kata Dwi menjelaskan.

Pekan depan Tari akan mengikuti Lomba Dai Cilik dalam Festival Anak Sholeh tingkat kecamatan. Lomba Dai Cilik itu sendiri terbagi dalam tiga kategori, yaitu dalam bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Tari akan bertanding dalam kategori bahasa Inggris. Ini pertama kalinya Tari ikut. Rasa grogi mendera gadis berumur sebelas tahun itu. Berbicara di depan umum memang bukan hal asing baginya, tapi bicara dalam bahasa Inggris? Dalam kontes Dai Cilik pula! Sungguh suatu hal baru!

Tari membaca keras-keras naskah yang dibuat Dwi dengan seksama. Tema lomba kali ini adalah 'Anti Narkoba'. "Bagaimana, Mbak? Bagus?", tanya Tari usai membaca naskah ceramah. Dwi mengacungkan jempolnya. "Sip! Bahasa Inggrismu bagus! Tidak ada kesulitan, kan?". Tari menggeleng. "Ulang lagi sampai hafal ya, Dik". Tari dan Dwi pun berlatih sepanjang sore itu.

"Tinggal kutipan ayatnya yang dalam Bahasa Arab, Dik". Tari mengangguk. "Buka Al-Quran, ya, Mbak. Di naskah tidak diketik Bahasa Arabnya, cuma terjemahannya dalam Bahasa Inggris". "Iya, Dik. Ini, coba dilihat di sini", kata Dwi sambil memberikan Quran Syaamil kepada Tari. "Al-Maidah ayat 190. Tentang larangan khamr", kata Dwi.

Tari menerima Al-Quran itu dengan tangan kanannya. Dibukanya Al-Quran milik Dwi. "Waaah... Subhanallaah. Al-Qurannya cantik sekali, Mbak!", seru Tari takjub. Dwi tersenyum. "Kalau nanti kamu menang, aku belikan yang seperti ini. Mau?", tanya Dwi. "Mau, mau, Mbak!", Tari berseru senang. Dibalik-baliknya Al-Quran bersampul cantik itu. Ada renda-renda dan hiasan bebatuan handmade di sampulnya.

"Sekarang kita hafalkan kutipan ayatnya, yuk", ajak Dwi. "O you who have believed, indeed, intoxicants, gambling,sacrificing on [stone alters] to other than Allah, and divining arrows are but defilement from the work of Satan, so avoid it that you may be successful", Dwi membaca terjemahannya dalam Bahasa Inggris. Tari membuka-buka lembar-lembar Al-Quran. Dicarinya surat Al-Maidah, surat kelima.

"Lho, Mbak...?", Tari keheranan. "Apa betul ayat yang dikutip itu dari surat Al-Maidah?". Dwi mengangguk. "Iya. Kenapa?". Tari mengangkat Al-Quran yang dibawanya ke hadapan Dwi. Ditunjuknya ayat terakhir dari surat Al-Maidah. "Lha ini cuma sampai ayat 120", kata Tari pelan. "Haaah?". Dwi berseru kaget. Diambilnya Al-Quran dari tangan Tari. "Oh, astaghfirullaah...bukan ayat 190, Dik, tapi...ayat...90. Maaf, ya. Salah informasi", kata Dwi. Dipandangnya wajah Tari. Sejenak ia diam, lalu tertawa. "Untung belum terlanjur hafal", katanya. Tari pun ikut tertawa.

-Selesai-

FF ini diikusertakan dalam Lomba Menulis "Cinta Al-Quran"

Newer Posts
Older Posts

LET’S BE FRIENDS

Labels

10% fiksi 100% fiksi 25% fiksi 50% fiksi 75% fiksi 90% fiksi FFRabu

recent posts

Blog Archive

  • Mei (2)
  • November (2)
  • September (2)
  • Agustus (2)
  • Juli (1)
  • Mei (4)
  • April (1)
  • Januari (2)
  • Desember (4)
  • November (1)
  • Oktober (1)
  • September (1)
  • Agustus (2)
  • Juli (2)
  • Juni (3)
  • Mei (2)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates