Hujan

Hujan! Aku harus pulang. Tapi...jemuran! Oh, tidak, tidak. Harus segera kuangkat! Hap, hap, hap.

Setengah berlari kupaksa tumpukan pakaian ini menerobos pintu rumah. Cepat, cepat! Masih ada lagi yang lain! Cepat, angkat semua lalu pulang.

Hujan menderas. Tak ada celah untuk menghindari tetesannya. Berarti tak ada kesempatan untuk pulang. Padahal Ibu menunggu di rumah. Ibu. Semoga aku selamat tiba di rumah.

Suara televisi terdengar. Film anak-anak. Suara tawa penontonnya menggelegar mengalahkan suara hujan. Oh, iya. Aku lupa. Bocor. Belum kusiapkan ember di bawahnya. Di dekat kompor, dua titik di gudang, dan masih ada lagi yang lain. Cepat, cepat! Sebelum air membanjir. Satu ember, dua ember, satu panci. Semoga cukup.

Aku kembali ke kamar. Berselancar di dunia maya. Tapi...oh, tidak! Penutup lubang pembuangan kamar mandi belum kubuka! Air dari talang yang dibuang ke kamar mandi bisa memenuhi ruangan lalu meluber ke mana-mana. Cepat, cepat!

Dua bocah mungil masih sibuk menonton televisi. Mereka belum bisa membantuku. Tak apa. Setidaknya tadi salah satu dari mereka memberi tahuku hujan turun.

Ke kamar lagi. Semoga sudah semua diamankan. Hujan masih deras. Berangin. Ah, Ibu, aku harus segera pulang. Kuyakin Ibu sedang menungguku. Menantiku dengan handuk dan air hangat untuk mandi. Lalu segelas teh hangat pun hadir menambah kehangatan. Kehangatan kasih Ibu.

Suara tangis bocah pecah di ruang tengah. Salah satu bocah kecil itu rupanya merasa dizolimi saudaranya. Tangisnya menuju ke arahku.
"Ibuuuuu..."
Aku kaget.
"Ya, Dek. Kenapa?"
Kupeluk tubuhnya.
"Kakak nakal", adunya.
Kuusap pipinya yang basah.
"Nakalnya gimana?", tanyaku.
Si bocah kecil ini pun menumpahkan ceritanya kepadaku. Aku pun menengahi mereka berdua. Sudah tugasku. Sudah takdirku.

Hujan masih turun. Ibu, meski aku sudah berkeluarga, namun hujan selalu mengingatkanku akan dirimu. Aku seakan harus pulang ke pangkuanmu. Rumahku adalah dirimu.

Ibu, kini akulah yang akan menjadi tujuan pulang bagi dua bocah kecil ini kala hujan turun.

-Selesai-

Sumber

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#FFRabu - Telat

Hubungan Segitiga

Jalan Haram