Sebuah Pesan

"Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan."

Andin, istriku, menatap wajahku dengan heran. Ponselku masih ada di genggamannya. 

Sumber indonesiarayanews

"Memangnya kenapa?", tanyanya. Aku diam berpikir. "Dia berbahaya. Boleh kuminta ponselku?", jawabku.

Tanganku terulur meminta. Andin memindahkan ponsel dari tangannya ke tanganku diiringi tatapan penuh tanda tanya. Ia tampak sangat ingin berdiskusi tentang pesan yang baru saja masuk ke ponselku. Tapi ia kalah cepat.  Cup! "Terima kasih, Sayang." Sebuah kecupan manis di pipi pasti akan mampu mengusir keraguannya.

Kubuka WhatsApp-ku dan segera kuhapus pesan dari kawan lamaku itu. Ia berlidah ular. Ia piawai sekali mengubah cara berpikir lawan bicaranya. Ini berbahaya! Tak kan kubiarkan dia menyihirku atau istriku. Pilihanku sudah bulat: memilih calon presiden idamanku walau apapun yang dikatakan orang!

-Selesai-

Prompt #54 Rahasia

Komentar

  1. eya ampuunn... bahasan soal capres dijadiin fiksi juga. hahahaha, bisaaaa... :))

    BalasHapus
  2. mas Diyar: kukuh bakoh pokoknya hehehe

    mbak Vanda: pelampiasan mbak. hihihi... lha panas nih kuping dengar ini itu.

    BalasHapus
  3. semangat amat ya temennya pengaruhi orang lain? :p

    BalasHapus
  4. begitulah kira2 kesukaan orang kita mas. kampanye di mnpun, kapanpun n dg media apapun. bhkn status di fb pun jg kampanye.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#FFRabu - Telat

Hubungan Segitiga

Jalan Haram