Korban

Joko memutuskan untuk pulang setelah lima tahun berlalu. Dia yakin kabar kepulangannya telah diketahui warga kampung.

"Om, Om, setelah ini nasib Pangeran Api gimana?" rengek Ahmad, Zaki dan Luthfi, keponakannya.
"Rahasia, dong," tukas Joko bangga.
Ahmad dan teman-temannya berteriak kecewa lalu berlari ke halaman.
"Jangan main rahasia sama kami, Om! Nanti kamu rasakan pembalasanku!" Ahmad mengacungkan tinjunya ke arah Joko.

"Tuh, lihat hasil karyamu", Siti, kakaknya, menimpali.

"Jangan main-main denganku, dasar bocah nakal!" Zaki berteriak.
"Siapa yang kau panggil bocah nakal, dasar kau hidung belang! Ciaaat!"
Zaki dan Ahmad bergumul di halaman.

"Mereka sudah susah diatur. Gara-gara sinetronmu itu!" omel Siti.
"Legenda Pedang Api. Apanya yang legenda? Sinetron kok isinya pacaran sama gelut thok!"

Joko tercenung. Ia pun sadar mengapa bukan hanya wajah Siti yang menua begitu cepat seolah terlihat sepuluh tahun lebih tua, tapi juga wajah-wajah penduduk kampung. Barangkali anak-anak mereka itulah penonton setia hasil karyanya yang kejar tayang setiap malam.

gelut thok: berkelahi saja

Menjawab panggilan PromptQuiz #6: Kepulangan Joko.

Komentar

  1. "Harus kultural edukatif," kata pemerintah.
    Gelut ada hikmahnya?
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah, Pakde. Salam kembali dari Jogja.

      Hapus
  2. Yang dicari rating sama pengiklan soalnya... Soal efek tayangan, dipikir belakangan

    BalasHapus
  3. untung jarang nonton sinetron :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya malah mas nulis sinetron tuh mas. Biar sinetron kita meningkat mutunya. Tapi trus kesandung pemegang saham TV. Ah...

      Hapus
  4. Ah, sinetron....yang saya lihat cuma manusia yang sok mirip kayak hewan sama anak-anak yang main cinta-cintaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya sinetron itu posisinya strategis ya mas. Sayang isinya begituan.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#FFRabu - Telat

Hubungan Segitiga

Jalan Haram